By : Anna Risnawati
Tanah gundukan itu masih merah , menyisakan harum bunga mawar yang teronggok di atasnya. Bunga-bunga yang berserakan di atas gundukan itupun belum berubah dari tempatnya. Bahkan angin sepertinya tak sanggup menerbangkan sekuntum bungapun. Aku terpekur sendirian. Kupegangi batu nisan yang belum kokoh berdiri. Dalam liang lahat itu terbujur kaku seseorang yang pernah mengisi relung hatiku. Mataku berkaca-kaca. Tubuhmu yang kekar itu ternyata tak sanggup menahan gempuran sel-sel kanker yang mengganas dalam tubuhmu. Kanker kolon itu sedikit demi sedikit menggerogoti tubuhmu sampai akhirnya kamu mencapai suatu titik yang tak bisa kamu tolak. Titik yang akan membawamu ke alam yang lebih indah dimana kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Karena sakit itu sudah kamu tinggalkan bersama tubuh yang sekarang terbujur kaku.
Kuusap peluh yang mulai menetes. Panas kota Jakarta seakan tak sanggup menahan keresahan hatiku. Hembusan napasmu yang terakhir masih kurasakan hangat. Tatapan matamu pasrah dengan bibir mencoba tersenyum. Tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutmu. Akupun tak bisa mengartikan tatapan matamu. Hanya isak tangisku yang kurasakan semakin kencang. Kugenggam tanganmu erat. Ingin rasanya aku mengalirkan kehangatan tubuhku sekiranya itu bisa meringankan bebanmu. Kamupun sebenarnya ingin membalas genggaman tanganku tapi apa daya kamu tak sanggup melakukannya. Hanya tatapan matamulah satu-satunya isyarat yang bisa kamu sampaikan. Tapi itupun tak bisa kupahami. Akhirnya kupeluk dirimu erat-erat. Dan masih sempat kubisikkan kata di telingamu “Aku masih mencintaimu”. Sampai akhirnya kamu benar-benar menutup mata untuk selamanya dalam pelukanku.
“ Berbaringlah dalam damai sayangku. Selamat jalan , doaku selalu menyertaimu. Semoga Allah memberimu tempat yang layak di sisi Nya”
Aku melangkah gontai meninggalkan tanah pekuburan itu. Pohon-pohon kamboja mulai meranggas , daun dan bunganya berguguran. Musim kemarau telah tiba.
“Daun–daun kering yang jatuh berserakan. Melayang tak tujuan. Entah jatuh kemana. Burung yang kecil berduka , tiada pohon yang rindang. Tempat bernyanyi riang , alam hampa merana. Kuberjalan di dalam kehampaan hati yang duka. Ditemani kesedihan. Bunga-bunga berguguran…………
Tanpa sadar aku bersenandung yang lebih mirip gumaman. Lagu di masa kecilku itu tiba-tiba membuncah di dada. Lagu itu kudengar pertama kali saat aku melihat film anak-anak yang dibintangi artis cilik terkenal. Setiap aku mendengar lagu itu hatiku serasa teriris-iris. ‘Sebuah tempat berselimut duka’ seakan – akan tergambar di pelupuk mataku. Kapan dan dimana aku tak tahu. Tapi aku suka sekali menyanyikannya waktu itu. Sampai Rika temanku sebangku menanyakannya.
“ Kenapa kamu suka sekali menyanyikan lagu itu ? Tiba-tiba aku merasa sedih mendengarnya”
Sejenak aku terdiam. Rika benar. Setiap aku menyanyikan lagu itu akupun merasa seperti di negara entah berantah yang sarat dengan kesedihan. Akhirnya aku berusaha untuk tidak menyanyikannya lagi. Dan sekarang lagu itu meluncur begitu saja dari mulutku. Ternyata ‘sebuah tempat berselimut duka’ itu tengah menjelma di depanku.
Kupungut beberapa pucuk bunga kamboja yang jatuh berserakan dan mengering. Kugenggam dan kuremas-remas. Seperti inilah hatiku saat ini. Kering. Setahun yang lalu aku meninggalkannya. Meninggalkan Jakarta yang mempertemukanku dengannya.
Harsha ! lelaki baik yang kukenal di dalam bus dalam suatu perjalanan dari Jakarta ke Bogor. Perkenalan yang tak sengaja itu justru membuahkan benih-benih cinta diantara kami berdua. Tiada hari tanpa kami lalui bersama. Setiap pulang kerja Harsha selalu menyempatkan diri mampir ke tempat kosku. Tiga tahun kami merajut cinta kasih. Bahagia, hanya satu kata yang terucap dari mulutku saat-saat aku bersamanya. Dan selama itu pula tidak ada tanda-tanda ada penyakit bersarang di tubuhnya. Apakah ia menyembunyikannya? Sampai akhirnya aku sering merasakan sakit di kepalaku. Dan kadang-kadang disertai pingsan. Kalau aku tak bisa menahan rasa sakit itu aku membentur-benturkan kepalaku ke tembok. Berkali-kali hal ini terjadi. Temanku sekamar sering kerepotan melihat tingkahku. Karena keadaan ini makin lama makin sering terjadi, akupun bingung. Akhirnya aku memutuskan check up di RS Cipto. Dan tersingkaplah apa yang menyebabkan kepalaku sering sakit.
“ Ada benjolan di kepalamu sebesar ibu jari. Dan benjolan itu terdapat pada tiga titik yaitu di otak kecil kanan, kiri dan tengkuk. Benjolan itu menunjukkan tumor ganas”
Bagai disambar petir di siang bolong aku mendengar vonis itu. “ Satu-satunya jalan hanya operasi. Tapi sayapun tidak berani menjamin apakah operasi ini akan berhasil. Kita berpacu dengan waktu agar tidak menyebar terutama menuju jantung”.
Dr.Sandra menjelaskan panjang lebar tentang penyakitku itu. Tapi aku tak sanggup mendengarnya. Makin sakit kepalaku. Aku tak perlu kata-kata yang lain. Yang aku ingat hanyalah kata ‘berpacu dengan waktu’
Aku tahu arti kata itu. Kematian sudah di ambang pintu. Kalau aku tidak menjalani operasi pengangkatan tumor ganas itu, aku tidak bisa bertahan hidup lagi. Tapi operasi inipun hanya bisa dilakukan di Singapura yang peralatannya lebih lengkap.
Sebuah taksi berhenti di depanku. Aku meloncat ke dalamnya. “Cilodong bang!” Si abang mengangguk dan langsung tancap gas. Jalan-jalan yang kulewati seakan hanya numpang lewat saja. Aku malas memperhatikannya. Tidak seperti biasanya aku suka sekali memandang hal-hal yang kulewati. Apapun itu. Kutengok jam menunjukkan pukul 3 sore. Aku harus mengejar pesawat ke Semarang yang take off pukul 6 petang. Aku tidak membawa banyak barang karena kedatanganku ke sini memang untuk menengok Harsha yang sedang sakit keras. Iin , adiknya Harsha yang tiba-tiba meneleponku meminta aku secepatnya ke Jakarta karena kakaknya menginginkanku datang. Yah, rupanya Harsha ingin detik-detik terakhirnya bisa dia lalui bersamaku. Keinginannya tercapai meskipun hanya sesaat. Dan tak sia-sia pula kemarin aku naik pesawat terakhir ke Jakarta hingga bisa mengejar denyut kehidupannya yang terakhir.
“Bang tunggu sebentar, saya ambil barang. Setelah itu antar saya ke Bandara.” Kembali si abang mengangguk. “ Ya neng.” Aku berlari menuju rumah paklikku.
“Paklik, aku mau langsung pulang ke Semarang,” pamitku pada paklik yang sedang membongkar-bongkar baju dagangannya.
“Lho ora maem sik, wis dimasakke bulikmu,”
“Iyo Ti,maem sik bulik wis masak bawal goreng kesenenganmu” Teriakan bulik dari dapur dalam bahasa Jawa. Dua puluh tahun lebih bulik dan paklik tinggal di Cilodong tapi masih nguri-uri bahasa Jawa. Tidak hilang sama sekali aku salut.
“Matur nuwun bulik sampun ditunggu taksi wonten ngajeng”
“Lho..lho piye to” Bulik tergopoh-gopoh menghampiriku.
“Lain kali saya pasti mampir agak lama,sekalian berlibur” kataku menenangkan hati bulik dan paklik.
“Yo wis nek ngono salam kanggo bapak lan ibu”
“Inggih paklik , bulik” Kucium tangan mereka. Seraya melambaikan tangan kembali aku meloncat ke dalam taksi yang langsung membawaku ke Bandara Soekarno Hatta.
Beruntung aku masih bisa boarding meskipun kurasakan penmpang lumayan penuh. Dan dalam rintik gerimis malam pesawat Boeing ini membawaku terbang ke Semarang.
………………………………………..
“Tik kok makanannya nggak dimakan cuma diaduk-aduk aja.”
“Ah,ya..ya ini segera kuhabiskan”
“Kamu sedang ngelamunin apa? Pulang dari Jakarta kamu melamun terus”
“Yah gitu Fan, temanku itu akhirnya meninggal………” Aku sengaja menggunakan kata teman agar tidak menimbulkan pertanyaan. Tapi belum selesai aku ngomong, Irfan sudah memotong perkataanku.
“ Bukankah kamu sudah cerita tadi pagi soal temanmu itu?” Mati aku. Ternyata Irfan masih ingat apa yang kukatakan.
“Oh iya ding, aku lupa.”
Irfan memandangku, sepertinya ia sedang membaca apa yang terjadi denganku. Mungkin gerak gerikku memang tidak seperti biasanya. Ada sedikit resah yang terpancar di mataku.
“Kamu kelihatan gelisah,ada apa?” tanyanya.
“Nggak ada apa-apa Fan. Mungkin aku merasakan sangat kehilangan. Dia memang teman yang sangat baik. Aku sering berbagi masalah dengannya.”
“Kamu kirim doa aja,agar dia tenang di alam sana,” kata Irfan bijak. Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.
Matahari terlihat mulai menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Sebentar lagi malampun tiba. Tapi kafe ini terlihat makin ramai. Banyak orang-orang sepulang kerja menyempatkan diri untuk refreshing sejenak sambil menunggu jalanan nggak terlalu macet.
Aku dan Irfanpun termasuk salah satunya. Kami berkenalan di kafe ini. Perkenalan ini akhirnya mendekatkan kami. Dia sering melihatku sendirian sambil main notebook. Dan itu membawanya untuk berkenalan denganku.
“Hai ! Sendirian aja? Boleh kutemani?” tanyanya waktu pertama kali melihatku.
Aku tersenyum dan mengangguk. Terjadilah perkenalan itu. Hari-haripun kami lalui bersama selama enam bulan terakhir ini. Tapi selama itu pula aku nggak pernah cerita tentang penyakitku. Aku memang menyembunyikannya, belum saatnya aku bicara. Biarlah kujalani hari-hariku bersama Irfan seperti apa adanya.
Saat ini aku sedang menjalani terapi karena aku masih ingin hidup. Padahal Fan, andai kamu tahu sekarang aku sedang menunggu detik-detik itu apakah akan menjadi suatu titik. Aku tidak tahu. Apakah episode kali ini akan berakhir seperti episode sebelumnya hanya sekarang peran utamanya adalah aku? Aku hanya bisa mengangkat bahu.
……………………………. Tidak ada tindakan , tidak ada perubahan. Sedikit tindakan perubahan terbatas. Banyak tindakan perubahan terjadi ( DuniaPustaka )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar