Welcome

Hello my friends. Welcome to my blog !! Let your lips always smile whatever happens. Escape from a situation that makes you dumb. That's my destination makes this blog.

Senin, 09 Januari 2012

Saat Terakhir


By : Anna Risnawati

            Tanah gundukan itu masih merah , menyisakan harum bunga mawar yang teronggok di atasnya. Bunga-bunga yang berserakan di atas gundukan itupun belum berubah dari tempatnya. Bahkan angin sepertinya tak sanggup menerbangkan sekuntum bungapun. Aku terpekur sendirian. Kupegangi batu nisan yang belum kokoh berdiri. Dalam liang lahat itu terbujur kaku seseorang yang pernah mengisi relung hatiku. Mataku berkaca-kaca. Tubuhmu yang kekar itu ternyata tak sanggup menahan gempuran sel-sel kanker yang mengganas dalam tubuhmu. Kanker kolon itu sedikit demi sedikit menggerogoti tubuhmu sampai akhirnya kamu mencapai suatu titik yang tak bisa kamu tolak. Titik yang akan membawamu ke alam yang lebih indah dimana kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Karena sakit itu sudah kamu tinggalkan bersama tubuh yang sekarang terbujur kaku.
            Kuusap peluh yang mulai menetes. Panas kota Jakarta seakan tak sanggup menahan keresahan hatiku. Hembusan napasmu yang terakhir masih kurasakan hangat. Tatapan matamu pasrah dengan bibir mencoba tersenyum. Tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutmu. Akupun tak bisa mengartikan tatapan matamu. Hanya isak tangisku yang kurasakan semakin kencang. Kugenggam tanganmu erat. Ingin rasanya aku mengalirkan kehangatan tubuhku sekiranya itu bisa meringankan bebanmu. Kamupun sebenarnya ingin membalas genggaman tanganku tapi apa daya kamu tak sanggup melakukannya. Hanya tatapan matamulah satu-satunya isyarat yang bisa kamu sampaikan. Tapi itupun tak bisa kupahami. Akhirnya kupeluk dirimu erat-erat. Dan masih sempat kubisikkan kata di telingamu “Aku masih mencintaimu”. Sampai akhirnya kamu benar-benar menutup mata untuk selamanya dalam pelukanku.
            “ Berbaringlah dalam damai sayangku. Selamat jalan , doaku selalu menyertaimu. Semoga Allah memberimu tempat yang layak di sisi Nya”
            Aku melangkah gontai meninggalkan tanah pekuburan itu. Pohon-pohon kamboja mulai meranggas , daun dan bunganya berguguran. Musim kemarau telah tiba.
“Daun–daun kering yang jatuh berserakan. Melayang tak tujuan. Entah jatuh kemana. Burung yang kecil berduka , tiada pohon yang rindang. Tempat bernyanyi riang , alam hampa merana. Kuberjalan di dalam kehampaan hati yang duka. Ditemani kesedihan. Bunga-bunga berguguran…………         
Tanpa sadar aku bersenandung yang lebih mirip gumaman. Lagu di masa kecilku itu tiba-tiba membuncah di dada. Lagu itu kudengar pertama kali saat aku melihat film anak-anak yang dibintangi artis cilik terkenal. Setiap aku mendengar lagu itu hatiku serasa teriris-iris. ‘Sebuah tempat berselimut duka’ seakan – akan tergambar di pelupuk mataku. Kapan dan dimana aku tak tahu. Tapi aku suka sekali menyanyikannya waktu itu. Sampai Rika temanku sebangku menanyakannya.
            “ Kenapa kamu suka sekali menyanyikan lagu itu ? Tiba-tiba aku merasa sedih mendengarnya”
Sejenak aku terdiam. Rika benar. Setiap aku menyanyikan lagu itu akupun merasa seperti di negara entah berantah yang sarat dengan kesedihan. Akhirnya aku berusaha untuk tidak menyanyikannya lagi. Dan sekarang lagu itu meluncur begitu saja dari mulutku. Ternyata ‘sebuah tempat berselimut duka’ itu tengah menjelma di depanku.
            Kupungut beberapa pucuk bunga kamboja yang jatuh berserakan dan mengering. Kugenggam dan kuremas-remas. Seperti inilah hatiku saat ini. Kering. Setahun yang lalu aku meninggalkannya. Meninggalkan Jakarta yang mempertemukanku dengannya.
Harsha ! lelaki baik yang kukenal di dalam bus dalam suatu perjalanan dari Jakarta ke Bogor. Perkenalan yang tak sengaja itu justru membuahkan benih-benih cinta diantara kami berdua. Tiada hari tanpa kami lalui bersama. Setiap pulang kerja Harsha selalu menyempatkan diri mampir ke tempat kosku. Tiga tahun kami merajut cinta kasih. Bahagia, hanya satu kata yang terucap dari mulutku saat-saat aku bersamanya. Dan selama itu pula tidak ada tanda-tanda ada penyakit bersarang di tubuhnya. Apakah ia menyembunyikannya? Sampai akhirnya aku sering merasakan sakit di kepalaku. Dan kadang-kadang disertai pingsan. Kalau aku tak bisa menahan rasa sakit itu aku membentur-benturkan kepalaku ke tembok. Berkali-kali hal ini terjadi. Temanku sekamar sering kerepotan melihat tingkahku. Karena keadaan ini makin lama makin sering terjadi, akupun bingung. Akhirnya aku memutuskan check up di RS Cipto. Dan tersingkaplah apa yang menyebabkan kepalaku sering sakit.
“ Ada benjolan di kepalamu sebesar ibu jari. Dan benjolan itu terdapat pada tiga titik yaitu di otak kecil kanan, kiri dan tengkuk. Benjolan itu menunjukkan tumor ganas”  
Bagai disambar petir di siang bolong aku mendengar vonis itu. “ Satu-satunya jalan hanya operasi. Tapi sayapun tidak berani menjamin apakah operasi ini akan berhasil. Kita berpacu dengan waktu agar tidak menyebar terutama menuju jantung”.
Dr.Sandra menjelaskan panjang lebar tentang penyakitku itu. Tapi aku tak sanggup mendengarnya. Makin sakit kepalaku. Aku tak perlu kata-kata yang lain. Yang aku ingat hanyalah kata ‘berpacu dengan waktu’ 
Aku tahu arti kata itu. Kematian sudah di ambang pintu. Kalau aku tidak menjalani operasi pengangkatan tumor ganas itu, aku tidak bisa bertahan hidup lagi. Tapi operasi inipun hanya bisa dilakukan di Singapura yang peralatannya lebih lengkap.
Sebuah taksi berhenti di depanku. Aku meloncat ke dalamnya. “Cilodong bang!” Si abang mengangguk dan langsung tancap gas. Jalan-jalan yang kulewati seakan hanya numpang lewat saja. Aku malas memperhatikannya. Tidak seperti biasanya aku suka sekali memandang hal-hal yang kulewati. Apapun itu. Kutengok jam menunjukkan pukul 3 sore. Aku harus mengejar pesawat ke Semarang yang take off pukul 6 petang. Aku tidak membawa banyak barang karena kedatanganku ke sini memang untuk menengok Harsha yang sedang sakit keras. Iin , adiknya Harsha yang tiba-tiba meneleponku meminta aku secepatnya ke Jakarta karena kakaknya menginginkanku datang. Yah, rupanya Harsha ingin detik-detik terakhirnya bisa dia lalui bersamaku. Keinginannya tercapai meskipun hanya sesaat. Dan tak sia-sia pula kemarin aku naik pesawat terakhir ke Jakarta hingga bisa mengejar denyut kehidupannya yang terakhir. 
            “Bang tunggu sebentar, saya ambil barang. Setelah itu antar saya ke Bandara.” Kembali si abang mengangguk. “ Ya neng.” Aku berlari menuju rumah paklikku.
            “Paklik, aku mau langsung pulang ke Semarang,” pamitku pada paklik yang sedang membongkar-bongkar baju dagangannya.
            “Lho ora maem sik, wis dimasakke bulikmu,”
            “Iyo Ti,maem sik bulik wis masak bawal goreng kesenenganmu” Teriakan bulik dari dapur dalam bahasa Jawa. Dua puluh tahun lebih bulik dan paklik tinggal di Cilodong tapi masih nguri-uri bahasa Jawa. Tidak hilang sama sekali aku salut.
            “Matur nuwun bulik sampun ditunggu taksi wonten ngajeng”
            “Lho..lho piye to” Bulik tergopoh-gopoh menghampiriku.
            “Lain kali saya pasti mampir agak lama,sekalian berlibur” kataku menenangkan hati bulik dan paklik.
            “Yo wis nek ngono salam kanggo bapak lan ibu”
            “Inggih paklik , bulik” Kucium tangan mereka. Seraya melambaikan tangan kembali aku meloncat ke dalam taksi yang langsung membawaku ke Bandara Soekarno Hatta.
            Beruntung aku masih bisa boarding meskipun kurasakan penmpang lumayan penuh. Dan dalam rintik gerimis malam pesawat Boeing ini membawaku terbang ke Semarang.
                                    ………………………………………..
“Tik kok makanannya nggak dimakan cuma diaduk-aduk aja.”
            “Ah,ya..ya ini segera kuhabiskan”
            “Kamu sedang ngelamunin apa? Pulang dari Jakarta kamu melamun terus”
            “Yah gitu Fan, temanku itu akhirnya meninggal………” Aku sengaja menggunakan kata teman agar tidak menimbulkan pertanyaan. Tapi belum selesai aku ngomong, Irfan sudah memotong perkataanku.
“ Bukankah kamu sudah cerita tadi pagi soal temanmu itu?” Mati aku. Ternyata Irfan masih ingat apa yang kukatakan.
“Oh iya ding, aku lupa.”
Irfan memandangku, sepertinya ia sedang membaca apa yang terjadi denganku. Mungkin gerak gerikku memang tidak seperti biasanya. Ada sedikit resah yang terpancar di mataku.
“Kamu kelihatan gelisah,ada apa?” tanyanya.
“Nggak ada apa-apa Fan. Mungkin aku merasakan sangat kehilangan. Dia memang teman yang sangat baik. Aku sering berbagi masalah dengannya.”
“Kamu kirim doa aja,agar dia tenang di alam sana,” kata Irfan bijak. Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.
Matahari terlihat mulai menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Sebentar lagi malampun tiba. Tapi kafe ini terlihat makin ramai. Banyak orang-orang sepulang kerja menyempatkan diri untuk refreshing sejenak sambil menunggu jalanan nggak terlalu macet.
Aku dan Irfanpun termasuk salah satunya. Kami berkenalan di kafe ini. Perkenalan ini akhirnya mendekatkan kami. Dia sering melihatku sendirian sambil main notebook. Dan itu membawanya untuk berkenalan denganku.
“Hai ! Sendirian aja? Boleh kutemani?” tanyanya waktu pertama kali melihatku.
Aku tersenyum dan mengangguk. Terjadilah perkenalan itu. Hari-haripun kami lalui bersama selama enam bulan terakhir ini. Tapi selama itu pula aku nggak pernah cerita tentang penyakitku. Aku memang menyembunyikannya, belum saatnya aku bicara. Biarlah kujalani hari-hariku bersama Irfan seperti apa adanya.
Saat ini aku sedang menjalani terapi karena aku masih ingin hidup. Padahal Fan, andai kamu tahu sekarang aku sedang menunggu detik-detik itu apakah akan menjadi suatu titik. Aku tidak tahu. Apakah episode kali ini akan berakhir seperti episode sebelumnya hanya sekarang peran utamanya adalah aku? Aku hanya bisa mengangkat bahu.
                                                …………………………….                               


Tidak ada tindakan , tidak ada perubahan. Sedikit tindakan perubahan terbatas. Banyak tindakan perubahan terjadi ( DuniaPustaka )

Sesal Arila


By : Anna Risnawati
            Arila memacu motor barunya dengan kecepatan 80 km/jam. Wwuussshh……..seperti dikejar setan aja. Padahal ia belum mengantongi Surat Ijin Mengemudi.(SIM). Ayahnya pernah berpesan kalau motor itu jangan dipakai Arila keluar kompleks dulu, sebelum ia punya SIM karena usianya baru 16 tahun. Ia harus menunggu 1 tahun lagi untuk mendapatkan SIM. Nanti ayah yang mengurus semuanya, kata ayahnya waktu itu. Tapi rupanya Arila udah nggak sabar ingin mencoba motor barunya itu.
Kebetulan hari ini ayahnya dinas ke Surabaya, pulang besok sore. Ibunya belum pulang kantor. Dan mas Bagas kakaknya masih kuliah. Di rumah tidak ada siapa-siapa. Maka dibawalah motor barunya itu diam-diam ke sekolah. Toh, ayah pulangnya besok sore, pikirnya.
Diliriknya jam tangannya menunjukkan pukul tiga sore. Wah, aku udah telat nih!  Yah, hari ini ada latihan baris-berbaris seluruh anggota ekskul Paskibra. Menjelang lomba baris-berbaris antar SMA, peserta ekskul Paskibra diwajibkan datang tiap hari untuk latihan. Seminggu lagi lomba baris-berbaris itu akan diadakan. Sekolah Arila selama ini selalu menduduki Juara Umum. Dan lomba kali inipun diharapkan mereka masih bisa mempertahankan gelar itu.
Sesampainya di gerbang sekolah ia mengurangi laju motornya. Teman-teman ekskulnya udah siap hendak latihan. Ketika melihat Arila masuk dan memarkir motornya  tak jauh dari tempat latihan, merekapun bersuit-suit heboh.
“Wuih, motor baru nih ! Bisa nebeng dong!” teriak Risa kegirangan. Rumahnya memang searah dengan Arila. Jadi yang ada di otaknya hanya cari tebengan. Lumayan bisa ngirit uang transport.
“Nggak ada yang mbonceng aku lagi, nih!” Rasta ikutan teriak. Cowok kelas XI itu selalu kebagian mengantar Arila pulang.
Setelah memarkir motornya Arila berlari menuju teman-temannya yang udah menunggu. Memang tinggal dia yang belum datang. Dan mas Hajar pembina Paskibra itu segera memberi aba-aba untuk memulai latihan, setelah dilihatnya anak-anak udah ngumpul semuanya.
“Tumben kamu bawa motor, bukannya belum boleh sama ayahmu?” tanya Risa bisik-bisik. Ia masih penasaran.
“Iya, ayahku sedang dinas ke Surabaya, pulang besok,” bisik Arila pula. Risa manggut-manggut mendengar jawaban Arila.
“Pantesan kamu berani bawa motor. Kamu kan paling takut sama ayahmu.”
“Arila ! Risa! Udah ngobrolnya? “ teriak mas Hajar menegur mereka berdua karena terlihat masih berbisik-bisik. “Kita harus serius latihan. Kompetisi ini semakin ketat. Lawan-lawan kita udah semakin pintar dan bisa membaca kelemahan kita. Kalau kita masih seperti tahun lalu, kita pasti kalah. Kita akan mencoba formasi baru.”
Ditatapnya satu per satu wajah anak-anak didiknya. Wajah-wajah yang penuh gairah dalam berlatih. Ia yakin Juara Umum akan berhasil mereka raih kembali.
Mas Hajar dan kakak-kakak pembina yang lain cukup serius mengajar kami latihan. Cukup rumit juga formasi baru yang diajarkan mas Hajar dan kakak-kakak pembina. Kesalahan banyak terjadi di sana-sini. Dan kelucuan-kelucuan gerakanpun sering terjadi. Akibatnya banyak yang mentertawakan diri sendiri maupun teman lain. Tapi kemenangan harus bisa kita raih, itu yang selalu ditanamkan mas Hajar.
Jam 5 tepat latihan selesai. Peluh menetes-netes di raut muka Arila. Segera dihabiskannya satu botol air hingga tandas dan dibasuhnya mukanya hingga kuyup.         “ Ah ! segarnya ..”  Kesegaran langsung menjalari tubuhnya. Dilihatnya teman-temannya banyak yang rebahan di rerumputan. Sejenak melepas lelah.
 Dan seperti biasa selepas latihan mereka nggak langsung pulang. Ada acara nongkrong dulu di depan gedung Berlian. Bayu, Rani, Irma, Iwan udah siap dimotornya masing-masing.
“Arila kamu ikut nggak ? Mumpung kamu bawa motor, ” ajak Rasta sambil menstarter motornya.
“So pasti dong. Aku udah susah payah bawa motor diam-diam, masa nggak ikutan?” teriak Arila sambil berlari ke motornya. Risa tak mau ketinggalan, ia udah nangkring di boncengan motor Arila. Rasta tersenyum. “Let’s go,” teriaknya sambil mengacungkan ibu jarinya. Dan terdengarlah suara motor menderu-deru keluar dari halaman sekolah. Mereka melaju beriringan menuju tempat tongkrongan. Jagung bakar mentega bikinan Yu Lastri udah berkelebetan di depan mata.
            ……………………………………………..
“Arila, pulang sekolah antar aku ke toko buku yuk? Aku mau cari novel teenlit,” bisik Risa seraya mencolek punggung Arila dari belakang. Arila mengiyakan tanpa menoleh dan mulai membereskan buku-bukunya karena lonceng tanda sekolah usai udah berbunyi. Secepatnya mereka berdua kabur menuju toko buku. Arila kesusahan mencari tempat parkir motor karena penuh. Ternyata banyak juga yang mampir dulu ke toko buku ini sebelum pulang ke rumah. Risa langsung berlari menuju rak novel. Ia memang udah mengincar novel karangan penulis remaja kesayangannya itu. Dan gadis itu langsung memelototi buku-buku di rak novel itu.
Arila hanya melihat-lihat majalah yang didisplay. Tiba-tiba hatinya mulai diliputi rasa gelisah. Berkali-kali diliriknya jam tangannya. Udah pukul 2 siang. Berarti sebentar lagi ayahnya akan datang dari Surabaya. Katanya sih jam 3 udah sampai Semarang. Aduh, gimana nih kalau ayahnya sampai tahu kalau motor ia bawa?
“Risa! Cepat. Udah jam 2. Ntar ayahku keburu datang,”  Arila sedikit berteriak kearah Risa karena dilihatnya gadis itu masih asyik melihat-lihat novel yang lain.
“Ya..ya. Ini udahan, aku bayar dulu ke kasir ya,” jawab Risa sambil berlari ke kasir. Agak lama juga ia di kasir karena antrian cukup panjang. Arila semakin gelisah. Begitu dilihatnya Risa keluar dari kasir segera ditariknya lengan gadis itu. Dan berlarilah mereka berdua ke tempat parkir. Segera Arila menstarter motornya dan langsung tancap gas. Makin lama makin kencang. Yang ada dalam pikirannya adalah sampai rumah duluan sebelum ayahnya tiba.
Sesampainya di perempatan ternyata lampu traffic light mati. Terpaksa ia melambatkan laju motornya. Setelah nengok kanan kiri dan dirasanya aman iapun tancap gas lagi. Tiba-tiba…braakkk! Aduh! Arila dan Risa berteriak kaget dan mendadak motornya nggak bisa dikendalikan. Gedubrak! Keduanya tersungkur di jalan. Risa jatuh terpelanting. Sedangkan Arila, kakinya tertindih motor. Dengkulnya tergesek aspal jalan dan berdarah-darah. Arila menengok ke sekelilingnya, siapa yang telah menabrak motornya? Dilihatnya ada seorang cowok berseragam putih abu-abu menghampirinya dan mencoba mengangkat motor yang menindihnya. Sedangkan teman cowok itu juga mengangkat motornya yang jatuh. Oh, jadi mereka yang menabrak aku?
“Maaf ya ! Kami udah membuat kalian terjatuh,” Cowok itu menatap Arila dengan wajah iba. Dipinggirkannya motor Arila. Dan dipapahnya gadis itu ke pinggir jalan. Dengan kaki terpincang-pincang dan wajah meringis kesakitan Arila menurut saja.
“Kita ke rumah sakit sekarang. Kaki kamu harus segera diobati sebelum terjadi infeksi,” kata cowok itu lagi saat melihat dengkul Arila yang luka berdarah dan nggak bisa ditekuk. Arila diam saja menahan rasa sakit. Dilihatnya Risa hanya terluka ringan. Cuma sikunya ada lecet-lecet.
“Kamu mbonceng Adit ya.” Cowok itu menunjuk Risa. Cowok yang bernama Adit mengangguk dan menghidupkan motornya.
“Dan kamu…?”
“Panggil aku..Arila.”  jawab Arila pelan.
“Aku Raffa, aku yang akan membawa motormu. Kamu membonceng aku”  Risa membantu Arila duduk di boncengan Raffa yang siap membawa mereka ke rumah sakit.
Sesampainya di UGD mereka langsung ditangani oleh dokter jaga. Tapi berhubung luka di dengkul Arila terlalu parah, agak lama juga dokter itu membersihkan dan mengobati lukanya. Setiap tangan dokter itu menyentuh lukanya, bisa dipastikan Arila akan menjerit kesakitan. Risa kasihan melihat Arila yang selalu mengerang kesakitan. Adit dan Raffa pun terlihat menyesal dengan kejadian ini. Tapi mereka sudah menunjukkan tanggung jawabnya dengan menanggung seluruh pengobatan Arila dan Risa.
Tiba-tiba ponsel Arila berdering. Arila mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dan …seketika wajahnya berubah tegang saat melihat nomor yang meneleponnya. Ayah !! Berarti ayah udah pulang dan mencari motor barunya nggak ada di rumah. Aduh gimana nih? Muka Arila mendadak pucat. Ia menoleh kearah Risa. Risapun tak kalah kagetnya. Ia bisa membaca apa yang dirasakan Arila. Pasti ayahnya yang menelepon.
Biar aku yang angkat ya,”  kata Risa sambil merebut ponsel itu dari tangan Arila. Ia merasa bertanggung jawab atas kecelakaan ini. Andaikan tadi nggak mampir dulu ke toko buku, pasti Arila bawa motornya nggak ngebut. Ini semua gara-gara dia.
Risa membawa ponsel itu menjauh. Ia tidak ingin apa dibicarakan dengan ayah Arila terdengar oleh Arila. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Risa menghampiri Arila dan bilang bahwa ayahnya akan datang ke rumah sakit.
“Apa ? Gimana nih.” Arila makin tegang mendengar kata-kata Risa.
“Tenang Arila. Belum tentu ayahmu marah-marah. Nanti aku akan bantu menjelaskan pada ayahmu,” Risa mencoba menenangkan Arila.
“Yah! Sudah selesai. Ini saya kasih resep untuk menebus obatnya.” Suara dokter jaga itu mengagetkan mereka. Dokter itu menulis sesuatu di selembar kertas dan diberikannya pada Raffa. “Dijaga jangan sampai lukanya kena air dan diminum obat anti biotiknya.”
“Terima kasih, dok!” kata mereka serempak.
“Kalian tunggu di sini dulu,aku menebus obatnya di apotik,” kata Raffa sambil berlari keluar menuju apotik tak jauh dari UGD.
Pelan-pelan Arila turun dari ranjang. Dengan dipapah Adit menuju kursi roda. Wajahnya meringis kesakitan. Adit mendorong kursi roda itu keluar dari UGD menuju apotik. Untuk mengambil obat yang sedang ditebus Raffa.
Tiba-tiba di pintu masuk UGD…… “Arila ..apa yang terjadi nak?” Suara seorang laki-laki membuat Arila terhenyak. Mulutnya terdiam, nggak sanggup berkata-kata. Laki-laki itu yang tak lain adalah ayah Arila menatapnya dengan rasa kasihan. Ia datang dengan kakaknya mas Bagas. Tiba-tiba Arila tak sanggup menahan air mata yang mengalir di pipinya. Dadanya dipenuhi rasa penyesalan.
“Maafkan Arila, yah! Arila bawa motor itu tanpa seijin ayah. Sekarang motor itu rusak, banyak yang harus diperbaiki karena tabrakan.”
“Sudahlah Arila, tidak usah kamu pikirkan itu dulu. Yang penting kamu selamat ya nak,” kata ayahnya bijak. Ketakutan Arila sirna mendengar kata-kata lembut ayahnya. Arila menyadari apa yang dikatakan ayah selama ini benar. Sekarang ia terbelenggu dengan rasa sakit akibat ulahnya sendiri. Kakinya saat ini tidak bisa dipakai jalan. Berarti kandas juga keikutsertaannya dalam lomba baris-berbaris. Semua penyesalan itu harus dibayarnya dengan mahal.  
            ………………………………………..

Rabu, 04 Januari 2012

V I R G I N


By : Anna Risnawati

Mobil merah itu membelok tajam menuju bangunan tua yang berdiri kokoh di jalan Menteri Soepeno. Suara ban mobilnya berderit-derit. Dan dengan sekali injakan rem mobilnya langsung berhenti dengan moncong sedikit mengangguk-angguk. Pengemudi mobil yang ternyata seorang gadis itu meloncat turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Berkali-kali diliriknya jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 kurang 5 menit. Sedikit berlari ia menuju gedung sekolah yang hampir ditutup oleh satpam jaga. Untung satpam itu belum sepenuhnya menarik pintu gerbang sekolah sehingga ia bisa menerobos masuk. Kalau nggak ia harus menunggu sampai jam istirahat pertama baru boleh masuk. Berarti sia-sialah ia begadang semalam mempersiapkan ulangan matematika yang diadakan jam pertama hari ini.  
Tok..tok…tok..suara sepatu berlari gadis itu menggema di selasar sekolah. Guru-guru terlihat sudah memasuki kelas masing-masing siap mengajar pelajaran untuk jam pertama. Gadis itu berlari menuju kelasnya XI PA-1 yang terletak di ujung selasar. Ternyata dirinya masih beruntung karena Bu Rani yang mengajar matematika belum terlihat memasuki kelas. Gadis itu membanting pantatnya di bangku urutan nomor dua dari depan deret ke dua. Napasnya tersengal-sengal. Segera ia mengeluarkan alat-alat  tulisnya. Eva teman sebangkunya menoleh mendengar suara gaduh di sebelahnya. Melihat gadis teman sebangkunya yang datang, ia hanya mendehem. Dan kembali sibuk menulis sesuatu di buku tulisnya.
“Tumben kamu telat,ada apa?,” tanyanya tanpa menoleh.
“Ini gara-gara mau ulangan matematika, aku jadi begadang semalaman. Dan akhirnya telat deh,” jawab gadis itu masih dengan napas yang tersengal-sengal
Eva tertawa ngakak...ha..ha...ha. Gadis itu menoleh kearah Eva.
“Kok kamu tertawa. Something wrong? Ada sesuatu yang salah?”
“Virgin!..Virgin!. Kamu sih kemarin pake acara bolos sama Rendi jadinya nggak tau deh….”  Eva masih mengikik.
“Nggak tau apanya.”
“Iya, jadwal ulangannya diundur minggu depan, Bu Rani hari ini nggak bisa masuk karena ada seminar di Dinas Pendidikan.”
“Oh My God! Sial aku udah begadang semalaman ternyata sia-sia juga.” Ia menepuk jidatnya sendiri.
Kemarin siang sehabis istirahat kedua ia memang kabur sama Rendi anak kelas XI PA-2, kongkow di tanjakan Gombel. Yah, Rendi ultah dan ingin merayakannya berdua dengannya. Sok romantis juga tuh anak. Karena nggak ingin mengecewakan sobatnya,ia mengiyakan aja saat diajak kabur. Alhasil ia membolos untuk jam keenam dan ketujuh yaitu Matematika. Beralasan sama guru BP ada acara keluarga. Sedangkan Rendi menengok temannya yang sakit. Akhirnya mereka berhasil kabur. Tapi seminggu sebelum hari Rabu kemarin Bu Rani udah ngasih pengumuman mau mengadakan ulangan Matematika hari Kamis jam pertama dan kedua.
“Terus kita ngapain nih”, tanya Virgin.
“Kita disuruh mengerjakan soal-soal yang ada di buku Matematika halaman 68” jawab Eva yang masih sibuk mengerjakan soal-soal itu.
Virgin membuka lembar demi lembar buku Matematika itu. Dahinya langsung berkerut  melihat soal-soal yang tertera di halaman 68, tentang Peluang dan Pencacahan.
“Kita kan belum diajarin bab ini. Dari no 1 – 20 ya?” tanya Virgin sambil membolak-balik halaman itu. 
“Iya, ntar kalau Bu Rani udah masuk baru dikumpulkan.”
Tiba-tiba kepala Virgin mendadak pusing melihat soal-soal yang terhampar di depan matanya. Pandangannya berubah gelap. Mendengar kata Matematika atau hal-hal yang berbau hitungan sudah cukup membuatnya mual. Apalagi ini disuruh mengerjakan 20 soal yang belum pernah dipelajarinya. Ditenangkannya hatinya. Pelan-pelan ia menarik napas panjang. Keringat mulai membasahi dahinya. Hatinya berkecamuk. Tenang Virgin, waktunya masih lama untuk menyelesaikan soal-soal itu. Jadi masih banyak waktu untuk berpikir, batinnya. Ia mencoba menenangkan diri. Pernah ia diberi pekerjaan rumah Matematika sama Bu Rani, khusus buatnya agar ia terbiasa dengan hitungan. Dan ia mencoba mengerjakan dengan sepenuh hati. Tapi tetap saja hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Hal ini tidak menjadikannya patah semangat. Ia sering konsultasi dengan Bu Rani untuk hasil yang lebih baik. Dan untuk ulangan hari inipun sebenarnya ia sudah berusaha belajar mati-matian semalam. Ajakan Rendi untuk clubbingpun ditampiknya. Tapi ternyata malah diundur.
…………………………………………………
           
            Lima bulan yang lalu……….
Gadis berkulit putih bersih itu duduk terpekur sendirian di ruang Guru. Lengannya yang putih mulus menjulur bersih dari balik lengan baju putihnya yang digulung. Wajahnya yang manis terlihat agak pucat. Urat nadinya yang bersemburat kehijauan menghiasi pipinya yang putih mulus. Tanpa make up sedikitpun hanya polesan bedak gadis itu terlihat semakin manis. Rok abu-abunya ketat membungkus tubuh bagian bawah hingga sedikit di atas lutut. Tungkainya yang semampai berbalut kaos kaki putih hingga betis. Tingginya mungkin sekitar 170 cm. Benar-benar seorang gadis dengan kecantikan yang sempurna.
            “Anda yang bernama Virginia…” Suara Bu Ika salah seorang guru di sekolah itu mengagetkannya. Beliau memasuki ruangan dengan membawa sebuah map kuning. Gadis itu mengangguk.
            “Panggil saya Virgin aja bu,” kata gadis itu.
            “Nama lengkap anda Virginia Aulia Fernita, pindahan dari Jakarta…?” tanya Bu Ika sambil membuka lembar demi lembar kertas yang ada di dalam map kuning itu,yang mungkin berisi data pribadi anak didik. Sekali lagi gadis itu mengangguk.
            “Kamu disini masuk kelas XI PA-1 setelah di Jakarta kamu dinyatakan naik kelas dan kamu mengambil jurusan Ilmu Alam”. Gadis yang bernama Virgin itu mengiyakan apa yang dikatakan Bu Ika.
            “Mari saya antar menuju kelasmu.”
            Virgin mengikuti langkah Bu Ika menuju kelas XI PA-1 yang terletak di selasar paling ujung lantai satu sekolah itu. Sepanjang jalan selasar itu murid-murid kelas XI yang melihatnya langsung bersuit-suit sambil harap-harap cemas. Maklum ada makhluk manis semampai yang berjalan melenggang dengan lembutnya. Mau masuk kelas berapa ya? Kira-kira itulah yang ada di benak pikiran mereka. Dan mereka berharap bisa masuk ke kelas mereka tentunya.
            Rendi, cowok reseh kelas XI PA-2 itu langsung heboh. Ia udah siap-siap tebar pesona aja, pasang muka sok imut di depan gadis itu. Sayangnya gadis itu hanya melirik sedikit ke Rendi. Kepalanya tertunduk dengan sedikit senyum. Rendi blingsatan melihat senyum gadis itu. Ah, betapa manisnya senyum itu.
            Sesampainya di ujung selasar Bu Ika berhenti dan menoleh kearah gadis itu.
            “Ini kelasmu. Sekarang sedang ada pelajaran Matematika diajar sama Bu Rani. Mari masuk. Saya perkenalkan kamu dengan teman-teman barumu.”
            Bu Ika mengetuk pintu kelas yang setengah terbuka dan mengangguk pada Bu Rani yang sedang mengajar. Bu Rani mempersilahkan Bu Ika masuk kelas dengan diiringi langkah gadis itu.
            “Anak-anak!” Suara Bu Ika menghentikan kegiatan belajar di kelas itu dan memaksa mereka menatap Bu Ika dan gadis itu.
            “Mulai hari ini kalian akan mendapat teman baru bernama Virginia Aulia Fernita atau panggil saja Virgin, pindahan dari Jakarta yang mengikuti kepindahan orang tuanya ke Semarang ini. Saya harap kalian bisa membantu Virgin untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan kelas di sini.”
Suit…suit..suara gaduh langsung menggema di kelas. Pastinya anak-anak cowok yang heboh melihat makhluk manis ini akan jadi teman mereka.
            “Virgin,duduk di samping aku aja ya.”  Totok yang duduk di ujung dekat  jendela langsung mendorong Reza teman sebangkunya hingga terjatuh. Ha…ha…ha… Kegaduhan kembali terjadi.
            “Sudah…sudah nggak usah ribut. Virgin kamu bisa duduk di samping Eva yang kebetulan kosong. Betul kan Eva?” tanya Bu Ika pada Eva
            “Betul bu,sebelah saya masih kosong.”
            “Terima kasih saya udah diterima dengan baik di sini. Tolong bantu saya untuk bisa menyesuaikan diri,”  kata Virgin dengan logat Jakartanya yang kental.
            “Tentuuuuuu!…..Okeeee!……” Suara celometan kembali terdengar disana sini. Bu Ika sampai harus mengetuk-ngetuk meja saking berisiknya, menyuruh anak-anak itu diam.
            “Baiklah Virgin! Silahkan kamu bergabung dengan teman-temanmu.”
“Terima kasih bu.” Virgin melangkah menuju bangku yang ditunjuk Bu Ika. Sebelum duduk ia sempat melempar senyum kearah Eva.Evapun membalas senyumannya
                       
            Brruuukkk!……..adduuuhh!
”Hai,kalau jalan pake mata dong. Main tabrak aja….” Teriakan pedas itu menggema di kuping Virgin. Ia jatuh terduduk, buku yang dibawanya berserakan di lantai. Dia yang nabrak. Kok jadi aku yang dimaki-maki,batinnya kesal.  Ia bangkit dan melotot kearah orang yang menabraknya.
“Jalan itu pake kaki, bukan pake mata, tau!” umpatnya kesal. Upss….bukannya ini cowok kelas sebelah yang reseh itu? Pantas aja kalo ngomong mulutnya nggak diatur. Cowok itupun terbelalak melihatnya. Seketika senyumnya mengembang.
“Hai! kamu kan anak baru di kelas sebelah itu kan?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya. “Aku Rendi …” katanya pede.
“Siapa yang nanya?” kata Virgin ketus sambil membereskan buku-bukunya.
“Kok kamu gitu sih! Jadi anak baru jangan sombong dong. Ntar nggak punya teman lho…”
“Cuma ama kamu yang mulutnya sok ngawur itu,” kata Virgin sambil melenggang meninggalkan Rendi yang masih terpana.  Tapi bukan Rendi namanya kalau membiarkan makhluk manis itu melenggang tanpa kata. Dikejarnya tuh cewek sampai di tempat parkir dan upss..ia berhasil menghadang jalannya si makhluk manis itu.
“Katanya kamu pindahan dari Jakarta ya? Kalau gitu sama dong. Aku juga mengikuti tugas ayahku yang dipindahkan ke Semarang ini.” Rendi langsung nyerocos. Ia takut kehilangan momen berharga ini.
Virgin menghentikan langkahnya, tangannya sibuk mengaduk-aduk tasnya mencari kunci mobil. Setelah ketemu ia menoleh ke arah Rendi.
“Trus kalau kita sama-sama dari Jakarta, memang mo ngapain?” tanyanya sambil membuka pintu mobil dan menaruh bawaannya di jok samping stir.
“Yaaa….seenggak-nggaknya kita kan bisa berteman , teman senasib gitu….”
 Sebenarnya enak juga sih ada teman senasib dari kota asal. Karena ia memang belum bisa sepenuhnya menerima keadaan kalau papanya dipindah tugaskan ke kota ini. Tapi masalahnya cowok ini bernama Rendi yang baru lihat aja udah menyebalkan…..
“Lihat gimana ntar deh,” kata Virgin sambil masuk ke mobilnya tanpa menoleh lagi kearah Rendi.
Rendi tersenyum senang, hatinya mendadak berbunga-bunga.
Virgin menggeber mobilnya meninggalkan debu-debu beterbangan. Lagunya Mulan “Makhluk Tuhan paling Sexi” terdengar menghentak mengiringi laju mobilnya membelah keramaian kota Semarang.

“Kenapa sih pa harus pindah ke Semarang. Virgin nggak mau ikut pindah. Virgin mau di Jakarta aja,” rengek Virgin menjelang kepindahan papanya ke Semarang. “Virgin nemanin mas Fahri di sini aja pa,” lanjutnya. Kakaknya Fahri yang kuliah di UNJ memang nggak ikut pindah ke Semarang. Karena kuliahnya nggak memungkinkan untuk pindah. Dia akan tetap tinggal di rumah papanya sekalian menjaga rumah itu. Di Semarang papanya akan tinggal di rumah dinas.
“Nggak bisa begitu sayang. Kamu harus ikut kami. Kamu masih membutuhkan perhatian. Tidak seperti kakakmu yang sudah bisa mandiri,” jelas mamanya. “Di Semarang kamu sudah mama carikan sekolah yang bagus. Kalau liburan sekolah kita kan bisa pulang ke Jakarta. Betul kan?”
“Tapi Semarang nggak kaya Jakarta ma. Kita bisa mendapatkan apa aja di sini. Kalau di Semarang..? Virginpun juga harus meninggalkan teman-teman yang udah seperti saudara sendiri.”
“Kamu bisa mendapatkan apa saja seperti di Jakarta. Mama dan papa kan sudah berkali-kali kesana. Kotanya nyaman untuk tinggal, pokoknya kamu akan betah tinggal di sana.”
Kepindahan tugas papanya memang harus dijalani. Akhirnya setelah dibujuk-bujuk Virginpun luluh dan mengikuti kepindahan orang tuanya ke Semarang. Dan berpisahlah dua kakak beradik iru.
“Kamu harus bisa jaga diri disana. Kamu nanti akan mendapatkan teman-teman baru yang baik seperti teman-temanmu disini. Aku dengar orang-orang Semarang juga ramah. Mereka welcome terhadap orang baru,” kata Fahri kakaknya panjang lebar untuk menenangkan hati Virgin yang masih bimbang.
Dan di hari Minggu yang cerah babak baru dalam kehidupan Virginpun dimulai. Disertai isak tangis teman-teman yang datang ke rumahnya untuk mengucapkan salam perpisahan, mereka saling berpelukan untuk yang terakhir kali.
“Jangan lupain kita ya. Kita masih bisa berteman kan?” Rina berkali-kali mengusap air matanya. Tisu sebungkus yang dibawanya ternyata tidak mencukupi. Rina memang paling dekat dengan Virgin. Dia sering nginap di rumah Virgin terutama malam minggu sehabis clubbing.  
“Pasti ! Sampai kapanpun kalian masih teman-temanku,” kata Virgin sendu. Berulang kali ia mengusap air mata yang deras mengalir di pipinya.
Dengan lambaian tangan teman-teman sekolah dan kakaknya mobil merekapun melaju meninggalkan kesemrawutan Jakarta menuju Semarang untuk memulai kehidupan baru. Mengikuti tugas papanya sebagai staf ahli teknik. Semoga aja di Semarang aku mendapatkan hal-hal yang lebih baik lagi, kata hati Virgin.
                        …………………………………………

Setelah lima bulan menjalani kehidupan di Semarang, Virgin mulai bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Emang benar kata mas Fahri, orang Semarang ramah dan sopan. Ia mulai bisa berdamai dengan hatinya, bahwa kota ini enak untuk ditinggali. Ia melihat papa dan mamanya pun tidak bermasalah dengan keadaan di sini. Mereka enjoy aja. Hanya dirinya aja yang merasa ada beban karena harus meninggalkan banyak kesenangan. Terutama kebiasaannya clubbing. Padahal mamanya sudah memperingatkan berkali-kali untuk berhenti dari kebiasaannya itu. Tapi karena teman-temannya pun juga ber hobbi sama maka iapun tidak bisa meninggalkan kebiasaannya itu.
Dan di Semarang ini kebiasaan itu muncul lagi setelah ia mulai berteman dengan Rendi. Ia yang tadinya antipati sama Rendi akhirnya luluh juga. Biarpun reseh, cowok itu rupanya berhasil memberikan kesenangan yang pernah didapatnya di Jakarta. Teman-temannya disini terlalu alim untuk mengikuti gaya hidupnya. Dan akhirnya dengan Rendi kebiasaan clubbing itu muncul lagi meskipun tidak seintens sewaktu di Jakarta.
Itupun ia harus mencuri-curi waktu saat papa dan mamanya pergi ke Jakarta nengok mas Fahri. Karena mamanya udah memberi peringatan keras tentang kebiasaannya itu. Hanya saja Rendi bukanlah teman yang baik, kesenangan yang diberikannya hanyalah semu. Sesaat kenikmatan itu akan membawa sengsara baginya.
                        ………………………………….
           
Aduhh…kepalaku sakit sekali…Virgin mengerang. Matanya berkunang-kunang.  Pandangannya sedikit mengabur. Pelajaran Matematika yang sedang diterangkan Bu Rani di depan kelas nggak ada yang masuk dalam otaknya. Keringat dingin mulai mengucur. Akhirnya ia minta ijin kepada Bu Rani untuk keluar sebentar ke kamar mandi.
            Ia berlari menuju kamar mandi dan jdeerrr…pintu kamar mandi dibantingnya. Buru-buru ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku roknya dan cepat-cepat dibukanya. Terpaparlah bubuk putih di atas kertas. Pelan-pelan dihirupnya bubuk putih itu melalui hidungnya. Matanya terpejam. Ia merasakan sensasi yang luar biasa. Sepertinya ia pergi jauh ke alam yang sangat indah. Dimana banyak bunga-bunga terhampar. Dan ia bisa memetiknya untuk dipersembahkan kepada sang pangeran yang sudah menunggunya. Untuk sejenak ia melupakan pelajaran Matematika yang selalu membuatnya down. Sebenarnya dulu sewaktu penjurusan ia tidak ingin masuk jurusan Ilmu Alam. Ia tidak menyukai hitungan. Ia ingin masuk jurusan Ilmu Sosial. Publik Relation adalah cita-citanya. Tapi apa daya, papanya menginginkan ia masuk Ilmu Alam.
“Ilmu Alam cakupannya lebih luas. Kalau lulus kamu bisa ambil jurusan apa saja saat kuliah nanti,” kata papanya waktu itu. Kata-kata papanya memang benar tapi masalahnya ia tidak suka hitungan. Kepalanya serasa mau pecah setiap menghadapi hitungan.
“Setiap hal bisa dipelajari. Hanya tinggal keikhlasan kamu membuka diri untuk mempelajari sesuatu yang baru.” 
Akhirnya Virgin mengalah mendengar kata-kata papanya. Ia tidak ingin mengecewakan papanya. Tapi justru itulah yang akhirnya menjerumukannya. Setiap menghadapi pelajaran Matematika rasa nervous langsung menyerangnya. Badannya menggigil dan keringat dingin mengucur. Setelah bertemu Rendi, ia diperkenalkan dengan barang haram itu. Dengan menghirup bubuk putih itu rasa percaya dirinya muncul. Dan ia bisa kembali tenang mengikuti pelajaran.
Hanya sedikit yang ia hirup sisanya ia bungkus lagi dan dimasukkan ke saku roknya. Ia harus hemat karena susah mendapatkannya. Tapi selama masih ada Rendi jalan untuk mendapatkan barang haram itu masih ada.
Lima belas menit ia berada di kamar mandi sudah cukup baginya untuk membuatnya tenang. Dan segera ia berlari menuju kelasnya untuk kembali mengikuti pelajaran Matematika.
                        ………………………………..
  
   Virgin berjalan melintasi padang rumput untuk menuju kelasnya di ujung selasar itu. Gayanya yang cuek mengundang semua mata tertuju padanya. Rok abu-abunya yang di atas lutut dengan lengan baju digulung membuat kecuekannya makin seksi. Tapi ada sepasang mata yang memandangnya dengan perasaan dingin. Sepasang mata milik Reza yang membuatnya berbeda. Jika cowok-cowok selalu heboh melihatnya, maka Reza hanya menatapnya dingin tanpa sepatah katapun terucap. Dasar cowok arogan, batin Virgin.
“Virgin !” Tiba-tiba ada suara memanggil namanya. Hah…! itu kan suara Reza. Virgin menoleh dan mendapati Reza tengah berjalan ke arahnya. Dan seperti biasa pula tanpa seulas senyum di bibirnya.
“Ada apa?” tanya Virgin menghentikan langkahnya.
“ Kutunggu kamu di kantin jam istirahat pertama, aku ingin ngobrol sama kamu.”  Belum sempat terucap sepatah katapun dari mulut Virgin, Reza udah ngeloyor pergi. Hah Reza mau ngobrol sama aku? Nggak salah tuh ! Tapi hatinya bersorak, siapa tahu ini langkah awal untuk lebih mengenal sosok Reza dibalik sikapnya yang dingin.

Teng!..teng!..teng!..lonceng berdentang tiga kali menandakan jam istirahat tiba. Virgin membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke laci meja.
“Aku keluar duluan,” kata Virgin pada Eva yang masih asyik menulis. Perkataan Virgin nggak dihiraukannya. Eva, si jago puisi itu pasti sedang bikin puisi baru. Soalnya mulutnya komat kamit dan tak menghiraukan alam sekitarnya. Sesekali pandangannya menerawang. Kalau ia sedang dapat wangsit tak seorangpun berani mengganggunya. Pasti akan kena semprot.
Virgin berlari kecil menuju kantin. Kepalanya celingukan mencari sosok Reza yang udah keluar duluan sejak jam ketiga. Ia nggak ikut pelajaran Sejarah.
Ah , itu dia. Reza duduk di ujung kantin. Kepalanya geleng-geleng, tangannya memegang Ipod dan di ujung telinganya terselip headset mungil. Entah lagu apa yang sedang didengarnya, yang jelas ia kelihatan menikmatinya.
Virgin menepuk pundak Reza. Reza menoleh. “Hai ! Duduklah,” Reza mempersilahkan Virgin duduk di depannya. Dicopotnya headset Ipod yang nangkring di telinganya. Kemudian tangannya melambai kearah mbak Munah penjual bakso di kantin.
“Bakso dan es jeruk dua mbak, komplit!,” teriak Reza. Mbak Munah mengangguk mendengar teriakan Reza. Virgin duduk dan mengamati sosok di depannya dengan seksama. Ia nggak peduli apakah yang ditatapnya berkenan atau tidak. Baru kali ini ia berhadapan dengan Reza dari dekat. Selama ini ia sebal karena Reza nggak pernah mau ramah dengannya. Beda dengan cowok-cowok lain yang welcome dengan kedatangannya. Reza pendiam dan cenderung menjaga jarak dengannya. Ditambah lagi dengan sikapnya yang dingin. Hanya tatapan matanya yang nggak bisa hilang dari ingatan Virgin. Mata itu begitu tajam seperti ada misteri yang melingkupinya. Tapi Virgin suka. Sebenarnya ini anak enak juga dilihat. Rambutnya sedikit pirang dan mukanya agak bule mungkin ada keturunan dari negeri seberang? Mendadak dadanya berdesir. Cuma senyumnya mahal. Mungkin aku harus membayar kali untuk bisa melihat senyumnya. Reza merasa Virgin sedang mengamatinya dan ia membiarkannya. Kebisuan menyergap di antara mereka. Hingga akhirnya mbak Munah menghampiri dengan membawa dua mangkok bakso dan es jeruk pesanan mereka.
“Monggo mas dan mbak,” kata mbak Munah sambil meletakkan bakso dan es jeruk di atas meja.
“Terima kasih mbak,” kata Reza dan Virgin bareng.
“Reza,sebenarnya apa yang mau kamu omongin? Aku jadi penasaran nih !” tanya Virgin sambil menuang saos ke dalam baksonya.
“Makan dulu aja,” kata Reza cuek. Dengan lahap dihabiskannya bakso yang terhidang di hadapannya. Virgin justru ogah-ogahan. Baksonya lebih banyak diaduk-aduk daripada dimakan.
“Perlu aku bantuin ngabisin baksonya nih….,” tanya Reza melihat Virgin malas makan. ”Enak kok baksonya,” kata Reza lagi. Virgin tersenyum.
“Abisnya kamu nggak mau ngomong sih? Aku kan jadi tegang.”
“Selama ini aku kan belum pernah makan bareng kamu. Cowok-cowok yang lain boleh masa aku nggak boleh.”
“Boleh-boleh aja kok. Aku kira kamunya yang nggak mau berteman sama aku. Kamu sombong, nggak mau tersenyum sama aku, itu yang terbersit di hatiku.”
“Kamu belum kenal siapa aku. Aku takut kamu pasti akan menjauh setelah tahu siapa aku.”
“Maksudmu?”  Virgin mengernyitkan dahinya. Matanya tak lepas menatap Reza. Rezapun ganti menatap Virgin.
“Kenapa kamu memilih Rendi sebagai temanmu? Apa karena kalian sama-sama pindahan dari Jakarta? Atau Rendi lebih bisa mengerti gaya hidupmu?”
Virgin terhenyak. Ia nggak tahu maksud bicara Reza. “Ada apa dengan gaya hidupku, kamu keberatan?” tanya Virgin sejurus kemudian dengan raut muka tegang.
“Tidak, setiap manusia punya pilihan untuk hidupnya. Dan kamu sudah memilih jalan hidupmu. Aku nggak tahu apakah kamu merasa nyaman dengan pilihanmu atau tidak?”
“Sudahlah Rez, nggak usah berbelit-belit sebenarnya kamu mau ngomong apa? Apa kamu ingin tahu kehidupanku?” Suara Virgin agak meninggi. Perasaannya mulai nggak suka ada yang mengusik kehidupannya.
“Tidak ! Aku nggak ingin tahu kehidupanmu karena aku sudah meninggalkannya.” Reza memandang gadis di hadapannya sendu. Ada rasa sayang menjalar dalam hatinya. Ia merasa harus menyelamatkan gadis ini. Virgin terdiam. Ia nggak tahu harus ngomong apa. Batinnya sepertinya bisa meraba bahwa Reza sebenarnya sudah tahu apa yang dilakukannya.
“Vir, aku tahu apa yang terjadi denganmu. Kejadian kamu sakit kemarin sampai kamu lari ke kamar mandi. Itu pernah aku rasakan. Aku lebih parah dari kamu. Dimanapun dan kapanpun kejadian itu bisa terjadi. Sampai akhirnya teman-teman lari dariku dan nggak ada yang mau berteman denganku.” Reza berhenti sejenak dan menghela napas panjang. Kemudian ia menggulung lengan bajunya dan menunjukkan lengan atasnya pada Virgin. Virgin melihat ada guratan-guratan menghiasi lengan Reza. Terutama di lengan kirinya. Dan di atas guratan itu ada sebuah tatto mawar merah kecil yang sedang mekar.
“Aku suka bunga mawar. Saat sedang mekar banyak orang memujinya karena keindahannya. Tapi tidak mudah untuk dipetik kalau tidak tahu caranya karena ada duri-duri di sekelilingnya. Saat berguguranpun keberadaannya masih berguna.”
 Virgin tertegun menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia nggak menyangka orang pendiam seperti Reza bisa terjerumus dan berteman dengan barang haram itu. Pantas aja Reza selalu pakai baju lengan panjang yang digulung sebatas siku.
“Dalam kesepian dan kesendirian akhirnya aku sadar. Aku nggak bisa begini terus karena hidup terus berjalan. Aku harus sembuh. Aku melihat temanku yang sekarat menyongsong maut dalam kesakitan dan kesendirian. Aku nggak mau seperti dia. Jalanku masih panjang. Akhirnya aku bangkit dengan tertatih-tatih. Dan setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya kamu bisa lihat seperti apa aku sekarang.”
Jadi Reza tahu apa yang kulakukan selama ini? , kata hati Virgin. Tiba-tiba air hangat mengalir dari pelupuk matanya. Air itu membasahi pipinya yang putih. Reza mengulurkan tisu kepadanya.
“Virgin.. nggak perlu bersedih. Semuanya sudah terjadi. Sorry ya… kalau kemarin aku sengaja menguntitmu ke kamar mandi. Karena aku tahu kejadian apa yang sedang kamu alami dan gejala yang kamu rasakan.”
Virgin makin terisak. Jalan hidupnya memang sudah tersesat. Apalagi setelah ia berteman dengan Rendi yang juga melakukan hal yang sama. Hanya saja ia sembunyi-sembunyi kalau sedang ngeboat. Jadi ia merasa aman-aman aja nggak ada yang tahu.
“Aku akan membantumu keluar dari bubuk setan itu. Kalau kamu mau.” Tangan Reza menggenggam tangan Virgin. Hangat menjalari relung hati Virgin. Ia mengangguk pasrah.
“Iya, aku ingin sembuh. Aku yakin bisa melewati ini semua bersamamu. Aku percaya padamu,” kata Virgin. Ditatapnya wajah didepannya yang sekarang kelihatan hangat tidak sedingin yang selama ini dirasakannya.
Dan teng…..teng….teng…bel berbunyi tiga kali menandakan jam istirahat telah usai bersamaan dengan hatinya yang mulai membuka lembaran baru.
                        …………………………………..


Ketika dia yang pergi memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkan padanya bahwa kamu punya 1000 alasan untuk tersenyum. ( Dunia Pustaka.com )