By : Anna Risnawati
Mobil merah itu membelok tajam menuju bangunan tua yang berdiri kokoh di jalan Menteri Soepeno. Suara ban mobilnya berderit-derit. Dan dengan sekali injakan rem mobilnya langsung berhenti dengan moncong sedikit mengangguk-angguk. Pengemudi mobil yang ternyata seorang gadis itu meloncat turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Berkali-kali diliriknya jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 kurang 5 menit. Sedikit berlari ia menuju gedung sekolah yang hampir ditutup oleh satpam jaga. Untung satpam itu belum sepenuhnya menarik pintu gerbang sekolah sehingga ia bisa menerobos masuk. Kalau nggak ia harus menunggu sampai jam istirahat pertama baru boleh masuk. Berarti sia-sialah ia begadang semalam mempersiapkan ulangan matematika yang diadakan jam pertama hari ini.
Tok..tok…tok..suara sepatu berlari gadis itu menggema di selasar sekolah. Guru-guru terlihat sudah memasuki kelas masing-masing siap mengajar pelajaran untuk jam pertama. Gadis itu berlari menuju kelasnya XI PA-1 yang terletak di ujung selasar. Ternyata dirinya masih beruntung karena Bu Rani yang mengajar matematika belum terlihat memasuki kelas. Gadis itu membanting pantatnya di bangku urutan nomor dua dari depan deret ke dua. Napasnya tersengal-sengal. Segera ia mengeluarkan alat-alat tulisnya. Eva teman sebangkunya menoleh mendengar suara gaduh di sebelahnya. Melihat gadis teman sebangkunya yang datang, ia hanya mendehem. Dan kembali sibuk menulis sesuatu di buku tulisnya.
“Tumben kamu telat,ada apa?,” tanyanya tanpa menoleh.
“Ini gara-gara mau ulangan matematika, aku jadi begadang semalaman. Dan akhirnya telat deh,” jawab gadis itu masih dengan napas yang tersengal-sengal
Eva tertawa ngakak...ha..ha...ha. Gadis itu menoleh kearah Eva.
“Kok kamu tertawa. Something wrong? Ada sesuatu yang salah?”
“Virgin!..Virgin!. Kamu sih kemarin pake acara bolos sama Rendi jadinya nggak tau deh….” Eva masih mengikik.
“Nggak tau apanya.”
“Iya, jadwal ulangannya diundur minggu depan, Bu Rani hari ini nggak bisa masuk karena ada seminar di Dinas Pendidikan.”
“Oh My God! Sial aku udah begadang semalaman ternyata sia-sia juga.” Ia menepuk jidatnya sendiri.
Kemarin siang sehabis istirahat kedua ia memang kabur sama Rendi anak kelas XI PA-2, kongkow di tanjakan Gombel. Yah, Rendi ultah dan ingin merayakannya berdua dengannya. Sok romantis juga tuh anak. Karena nggak ingin mengecewakan sobatnya,ia mengiyakan aja saat diajak kabur. Alhasil ia membolos untuk jam keenam dan ketujuh yaitu Matematika. Beralasan sama guru BP ada acara keluarga. Sedangkan Rendi menengok temannya yang sakit. Akhirnya mereka berhasil kabur. Tapi seminggu sebelum hari Rabu kemarin Bu Rani udah ngasih pengumuman mau mengadakan ulangan Matematika hari Kamis jam pertama dan kedua.
“Terus kita ngapain nih”, tanya Virgin.
“Kita disuruh mengerjakan soal-soal yang ada di buku Matematika halaman 68” jawab Eva yang masih sibuk mengerjakan soal-soal itu.
Virgin membuka lembar demi lembar buku Matematika itu. Dahinya langsung berkerut melihat soal-soal yang tertera di halaman 68, tentang Peluang dan Pencacahan.
“Kita kan belum diajarin bab ini. Dari no 1 – 20 ya?” tanya Virgin sambil membolak-balik halaman itu.
“Iya, ntar kalau Bu Rani udah masuk baru dikumpulkan.”
Tiba-tiba kepala Virgin mendadak pusing melihat soal-soal yang terhampar di depan matanya. Pandangannya berubah gelap. Mendengar kata Matematika atau hal-hal yang berbau hitungan sudah cukup membuatnya mual. Apalagi ini disuruh mengerjakan 20 soal yang belum pernah dipelajarinya. Ditenangkannya hatinya. Pelan-pelan ia menarik napas panjang. Keringat mulai membasahi dahinya. Hatinya berkecamuk. Tenang Virgin, waktunya masih lama untuk menyelesaikan soal-soal itu. Jadi masih banyak waktu untuk berpikir, batinnya. Ia mencoba menenangkan diri. Pernah ia diberi pekerjaan rumah Matematika sama Bu Rani, khusus buatnya agar ia terbiasa dengan hitungan. Dan ia mencoba mengerjakan dengan sepenuh hati. Tapi tetap saja hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Hal ini tidak menjadikannya patah semangat. Ia sering konsultasi dengan Bu Rani untuk hasil yang lebih baik. Dan untuk ulangan hari inipun sebenarnya ia sudah berusaha belajar mati-matian semalam. Ajakan Rendi untuk clubbingpun ditampiknya. Tapi ternyata malah diundur.
…………………………………………………
Lima bulan yang lalu……….
Gadis berkulit putih bersih itu duduk terpekur sendirian di ruang Guru. Lengannya yang putih mulus menjulur bersih dari balik lengan baju putihnya yang digulung. Wajahnya yang manis terlihat agak pucat. Urat nadinya yang bersemburat kehijauan menghiasi pipinya yang putih mulus. Tanpa make up sedikitpun hanya polesan bedak gadis itu terlihat semakin manis. Rok abu-abunya ketat membungkus tubuh bagian bawah hingga sedikit di atas lutut. Tungkainya yang semampai berbalut kaos kaki putih hingga betis. Tingginya mungkin sekitar 170 cm. Benar-benar seorang gadis dengan kecantikan yang sempurna.
“Anda yang bernama Virginia…” Suara Bu Ika salah seorang guru di sekolah itu mengagetkannya. Beliau memasuki ruangan dengan membawa sebuah map kuning. Gadis itu mengangguk.
“Panggil saya Virgin aja bu,” kata gadis itu.
“Nama lengkap anda Virginia Aulia Fernita, pindahan dari Jakarta…?” tanya Bu Ika sambil membuka lembar demi lembar kertas yang ada di dalam map kuning itu,yang mungkin berisi data pribadi anak didik. Sekali lagi gadis itu mengangguk.
“Kamu disini masuk kelas XI PA-1 setelah di Jakarta kamu dinyatakan naik kelas dan kamu mengambil jurusan Ilmu Alam”. Gadis yang bernama Virgin itu mengiyakan apa yang dikatakan Bu Ika.
“Mari saya antar menuju kelasmu.”
Virgin mengikuti langkah Bu Ika menuju kelas XI PA-1 yang terletak di selasar paling ujung lantai satu sekolah itu. Sepanjang jalan selasar itu murid-murid kelas XI yang melihatnya langsung bersuit-suit sambil harap-harap cemas. Maklum ada makhluk manis semampai yang berjalan melenggang dengan lembutnya. Mau masuk kelas berapa ya? Kira-kira itulah yang ada di benak pikiran mereka. Dan mereka berharap bisa masuk ke kelas mereka tentunya.
Rendi, cowok reseh kelas XI PA-2 itu langsung heboh. Ia udah siap-siap tebar pesona aja, pasang muka sok imut di depan gadis itu. Sayangnya gadis itu hanya melirik sedikit ke Rendi. Kepalanya tertunduk dengan sedikit senyum. Rendi blingsatan melihat senyum gadis itu. Ah, betapa manisnya senyum itu.
Sesampainya di ujung selasar Bu Ika berhenti dan menoleh kearah gadis itu.
“Ini kelasmu. Sekarang sedang ada pelajaran Matematika diajar sama Bu Rani. Mari masuk. Saya perkenalkan kamu dengan teman-teman barumu.”
Bu Ika mengetuk pintu kelas yang setengah terbuka dan mengangguk pada Bu Rani yang sedang mengajar. Bu Rani mempersilahkan Bu Ika masuk kelas dengan diiringi langkah gadis itu.
“Anak-anak!” Suara Bu Ika menghentikan kegiatan belajar di kelas itu dan memaksa mereka menatap Bu Ika dan gadis itu.
“Mulai hari ini kalian akan mendapat teman baru bernama Virginia Aulia Fernita atau panggil saja Virgin, pindahan dari Jakarta yang mengikuti kepindahan orang tuanya ke Semarang ini. Saya harap kalian bisa membantu Virgin untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan kelas di sini.”
Suit…suit..suara gaduh langsung menggema di kelas. Pastinya anak-anak cowok yang heboh melihat makhluk manis ini akan jadi teman mereka.
“Virgin,duduk di samping aku aja ya.” Totok yang duduk di ujung dekat jendela langsung mendorong Reza teman sebangkunya hingga terjatuh. Ha…ha…ha… Kegaduhan kembali terjadi.
“Sudah…sudah nggak usah ribut. Virgin kamu bisa duduk di samping Eva yang kebetulan kosong. Betul kan Eva?” tanya Bu Ika pada Eva
“Betul bu,sebelah saya masih kosong.”
“Terima kasih saya udah diterima dengan baik di sini. Tolong bantu saya untuk bisa menyesuaikan diri,” kata Virgin dengan logat Jakartanya yang kental.
“Tentuuuuuu!…..Okeeee!……” Suara celometan kembali terdengar disana sini. Bu Ika sampai harus mengetuk-ngetuk meja saking berisiknya, menyuruh anak-anak itu diam.
“Baiklah Virgin! Silahkan kamu bergabung dengan teman-temanmu.”
“Terima kasih bu.” Virgin melangkah menuju bangku yang ditunjuk Bu Ika. Sebelum duduk ia sempat melempar senyum kearah Eva.Evapun membalas senyumannya
Brruuukkk!……..adduuuhh!
”Hai,kalau jalan pake mata dong. Main tabrak aja….” Teriakan pedas itu menggema di kuping Virgin. Ia jatuh terduduk, buku yang dibawanya berserakan di lantai. Dia yang nabrak. Kok jadi aku yang dimaki-maki,batinnya kesal. Ia bangkit dan melotot kearah orang yang menabraknya.
“Jalan itu pake kaki, bukan pake mata, tau!” umpatnya kesal. Upss….bukannya ini cowok kelas sebelah yang reseh itu? Pantas aja kalo ngomong mulutnya nggak diatur. Cowok itupun terbelalak melihatnya. Seketika senyumnya mengembang.
“Hai! kamu kan anak baru di kelas sebelah itu kan?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya. “Aku Rendi …” katanya pede.
“Siapa yang nanya?” kata Virgin ketus sambil membereskan buku-bukunya.
“Kok kamu gitu sih! Jadi anak baru jangan sombong dong. Ntar nggak punya teman lho…”
“Cuma ama kamu yang mulutnya sok ngawur itu,” kata Virgin sambil melenggang meninggalkan Rendi yang masih terpana. Tapi bukan Rendi namanya kalau membiarkan makhluk manis itu melenggang tanpa kata. Dikejarnya tuh cewek sampai di tempat parkir dan upss..ia berhasil menghadang jalannya si makhluk manis itu.
“Katanya kamu pindahan dari Jakarta ya? Kalau gitu sama dong. Aku juga mengikuti tugas ayahku yang dipindahkan ke Semarang ini.” Rendi langsung nyerocos. Ia takut kehilangan momen berharga ini.
Virgin menghentikan langkahnya, tangannya sibuk mengaduk-aduk tasnya mencari kunci mobil. Setelah ketemu ia menoleh ke arah Rendi.
“Trus kalau kita sama-sama dari Jakarta, memang mo ngapain?” tanyanya sambil membuka pintu mobil dan menaruh bawaannya di jok samping stir.
“Yaaa….seenggak-nggaknya kita kan bisa berteman , teman senasib gitu….”
Sebenarnya enak juga sih ada teman senasib dari kota asal. Karena ia memang belum bisa sepenuhnya menerima keadaan kalau papanya dipindah tugaskan ke kota ini. Tapi masalahnya cowok ini bernama Rendi yang baru lihat aja udah menyebalkan…..
“Lihat gimana ntar deh,” kata Virgin sambil masuk ke mobilnya tanpa menoleh lagi kearah Rendi.
Rendi tersenyum senang, hatinya mendadak berbunga-bunga.
Virgin menggeber mobilnya meninggalkan debu-debu beterbangan. Lagunya Mulan “Makhluk Tuhan paling Sexi” terdengar menghentak mengiringi laju mobilnya membelah keramaian kota Semarang.
“Kenapa sih pa harus pindah ke Semarang. Virgin nggak mau ikut pindah. Virgin mau di Jakarta aja,” rengek Virgin menjelang kepindahan papanya ke Semarang. “Virgin nemanin mas Fahri di sini aja pa,” lanjutnya. Kakaknya Fahri yang kuliah di UNJ memang nggak ikut pindah ke Semarang. Karena kuliahnya nggak memungkinkan untuk pindah. Dia akan tetap tinggal di rumah papanya sekalian menjaga rumah itu. Di Semarang papanya akan tinggal di rumah dinas.
“Nggak bisa begitu sayang. Kamu harus ikut kami. Kamu masih membutuhkan perhatian. Tidak seperti kakakmu yang sudah bisa mandiri,” jelas mamanya. “Di Semarang kamu sudah mama carikan sekolah yang bagus. Kalau liburan sekolah kita kan bisa pulang ke Jakarta. Betul kan?”
“Tapi Semarang nggak kaya Jakarta ma. Kita bisa mendapatkan apa aja di sini. Kalau di Semarang..? Virginpun juga harus meninggalkan teman-teman yang udah seperti saudara sendiri.”
“Kamu bisa mendapatkan apa saja seperti di Jakarta. Mama dan papa kan sudah berkali-kali kesana. Kotanya nyaman untuk tinggal, pokoknya kamu akan betah tinggal di sana.”
Kepindahan tugas papanya memang harus dijalani. Akhirnya setelah dibujuk-bujuk Virginpun luluh dan mengikuti kepindahan orang tuanya ke Semarang. Dan berpisahlah dua kakak beradik iru.
“Kamu harus bisa jaga diri disana. Kamu nanti akan mendapatkan teman-teman baru yang baik seperti teman-temanmu disini. Aku dengar orang-orang Semarang juga ramah. Mereka welcome terhadap orang baru,” kata Fahri kakaknya panjang lebar untuk menenangkan hati Virgin yang masih bimbang.
Dan di hari Minggu yang cerah babak baru dalam kehidupan Virginpun dimulai. Disertai isak tangis teman-teman yang datang ke rumahnya untuk mengucapkan salam perpisahan, mereka saling berpelukan untuk yang terakhir kali.
“Jangan lupain kita ya. Kita masih bisa berteman kan?” Rina berkali-kali mengusap air matanya. Tisu sebungkus yang dibawanya ternyata tidak mencukupi. Rina memang paling dekat dengan Virgin. Dia sering nginap di rumah Virgin terutama malam minggu sehabis clubbing.
“Pasti ! Sampai kapanpun kalian masih teman-temanku,” kata Virgin sendu. Berulang kali ia mengusap air mata yang deras mengalir di pipinya.
Dengan lambaian tangan teman-teman sekolah dan kakaknya mobil merekapun melaju meninggalkan kesemrawutan Jakarta menuju Semarang untuk memulai kehidupan baru. Mengikuti tugas papanya sebagai staf ahli teknik. Semoga aja di Semarang aku mendapatkan hal-hal yang lebih baik lagi, kata hati Virgin.
…………………………………………
Setelah lima bulan menjalani kehidupan di Semarang, Virgin mulai bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Emang benar kata mas Fahri, orang Semarang ramah dan sopan. Ia mulai bisa berdamai dengan hatinya, bahwa kota ini enak untuk ditinggali. Ia melihat papa dan mamanya pun tidak bermasalah dengan keadaan di sini. Mereka enjoy aja. Hanya dirinya aja yang merasa ada beban karena harus meninggalkan banyak kesenangan. Terutama kebiasaannya clubbing. Padahal mamanya sudah memperingatkan berkali-kali untuk berhenti dari kebiasaannya itu. Tapi karena teman-temannya pun juga ber hobbi sama maka iapun tidak bisa meninggalkan kebiasaannya itu.
Dan di Semarang ini kebiasaan itu muncul lagi setelah ia mulai berteman dengan Rendi. Ia yang tadinya antipati sama Rendi akhirnya luluh juga. Biarpun reseh, cowok itu rupanya berhasil memberikan kesenangan yang pernah didapatnya di Jakarta. Teman-temannya disini terlalu alim untuk mengikuti gaya hidupnya. Dan akhirnya dengan Rendi kebiasaan clubbing itu muncul lagi meskipun tidak seintens sewaktu di Jakarta.
Itupun ia harus mencuri-curi waktu saat papa dan mamanya pergi ke Jakarta nengok mas Fahri. Karena mamanya udah memberi peringatan keras tentang kebiasaannya itu. Hanya saja Rendi bukanlah teman yang baik, kesenangan yang diberikannya hanyalah semu. Sesaat kenikmatan itu akan membawa sengsara baginya.
………………………………….
Aduhh…kepalaku sakit sekali…Virgin mengerang. Matanya berkunang-kunang. Pandangannya sedikit mengabur. Pelajaran Matematika yang sedang diterangkan Bu Rani di depan kelas nggak ada yang masuk dalam otaknya. Keringat dingin mulai mengucur. Akhirnya ia minta ijin kepada Bu Rani untuk keluar sebentar ke kamar mandi.
Ia berlari menuju kamar mandi dan jdeerrr…pintu kamar mandi dibantingnya. Buru-buru ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku roknya dan cepat-cepat dibukanya. Terpaparlah bubuk putih di atas kertas. Pelan-pelan dihirupnya bubuk putih itu melalui hidungnya. Matanya terpejam. Ia merasakan sensasi yang luar biasa. Sepertinya ia pergi jauh ke alam yang sangat indah. Dimana banyak bunga-bunga terhampar. Dan ia bisa memetiknya untuk dipersembahkan kepada sang pangeran yang sudah menunggunya. Untuk sejenak ia melupakan pelajaran Matematika yang selalu membuatnya down. Sebenarnya dulu sewaktu penjurusan ia tidak ingin masuk jurusan Ilmu Alam. Ia tidak menyukai hitungan. Ia ingin masuk jurusan Ilmu Sosial. Publik Relation adalah cita-citanya. Tapi apa daya, papanya menginginkan ia masuk Ilmu Alam.
“Ilmu Alam cakupannya lebih luas. Kalau lulus kamu bisa ambil jurusan apa saja saat kuliah nanti,” kata papanya waktu itu. Kata-kata papanya memang benar tapi masalahnya ia tidak suka hitungan. Kepalanya serasa mau pecah setiap menghadapi hitungan.
“Setiap hal bisa dipelajari. Hanya tinggal keikhlasan kamu membuka diri untuk mempelajari sesuatu yang baru.”
Akhirnya Virgin mengalah mendengar kata-kata papanya. Ia tidak ingin mengecewakan papanya. Tapi justru itulah yang akhirnya menjerumukannya. Setiap menghadapi pelajaran Matematika rasa nervous langsung menyerangnya. Badannya menggigil dan keringat dingin mengucur. Setelah bertemu Rendi, ia diperkenalkan dengan barang haram itu. Dengan menghirup bubuk putih itu rasa percaya dirinya muncul. Dan ia bisa kembali tenang mengikuti pelajaran.
Hanya sedikit yang ia hirup sisanya ia bungkus lagi dan dimasukkan ke saku roknya. Ia harus hemat karena susah mendapatkannya. Tapi selama masih ada Rendi jalan untuk mendapatkan barang haram itu masih ada.
Lima belas menit ia berada di kamar mandi sudah cukup baginya untuk membuatnya tenang. Dan segera ia berlari menuju kelasnya untuk kembali mengikuti pelajaran Matematika.
………………………………..
Virgin berjalan melintasi padang rumput untuk menuju kelasnya di ujung selasar itu. Gayanya yang cuek mengundang semua mata tertuju padanya. Rok abu-abunya yang di atas lutut dengan lengan baju digulung membuat kecuekannya makin seksi. Tapi ada sepasang mata yang memandangnya dengan perasaan dingin. Sepasang mata milik Reza yang membuatnya berbeda. Jika cowok-cowok selalu heboh melihatnya, maka Reza hanya menatapnya dingin tanpa sepatah katapun terucap. Dasar cowok arogan, batin Virgin.
“Virgin !” Tiba-tiba ada suara memanggil namanya. Hah…! itu kan suara Reza. Virgin menoleh dan mendapati Reza tengah berjalan ke arahnya. Dan seperti biasa pula tanpa seulas senyum di bibirnya.
“Ada apa?” tanya Virgin menghentikan langkahnya.
“ Kutunggu kamu di kantin jam istirahat pertama, aku ingin ngobrol sama kamu.” Belum sempat terucap sepatah katapun dari mulut Virgin, Reza udah ngeloyor pergi. Hah Reza mau ngobrol sama aku? Nggak salah tuh ! Tapi hatinya bersorak, siapa tahu ini langkah awal untuk lebih mengenal sosok Reza dibalik sikapnya yang dingin.
Teng!..teng!..teng!..lonceng berdentang tiga kali menandakan jam istirahat tiba. Virgin membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke laci meja.
“Aku keluar duluan,” kata Virgin pada Eva yang masih asyik menulis. Perkataan Virgin nggak dihiraukannya. Eva, si jago puisi itu pasti sedang bikin puisi baru. Soalnya mulutnya komat kamit dan tak menghiraukan alam sekitarnya. Sesekali pandangannya menerawang. Kalau ia sedang dapat wangsit tak seorangpun berani mengganggunya. Pasti akan kena semprot.
Virgin berlari kecil menuju kantin. Kepalanya celingukan mencari sosok Reza yang udah keluar duluan sejak jam ketiga. Ia nggak ikut pelajaran Sejarah.
Ah , itu dia. Reza duduk di ujung kantin. Kepalanya geleng-geleng, tangannya memegang Ipod dan di ujung telinganya terselip headset mungil. Entah lagu apa yang sedang didengarnya, yang jelas ia kelihatan menikmatinya.
Virgin menepuk pundak Reza. Reza menoleh. “Hai ! Duduklah,” Reza mempersilahkan Virgin duduk di depannya. Dicopotnya headset Ipod yang nangkring di telinganya. Kemudian tangannya melambai kearah mbak Munah penjual bakso di kantin.
“Bakso dan es jeruk dua mbak, komplit!,” teriak Reza. Mbak Munah mengangguk mendengar teriakan Reza. Virgin duduk dan mengamati sosok di depannya dengan seksama. Ia nggak peduli apakah yang ditatapnya berkenan atau tidak. Baru kali ini ia berhadapan dengan Reza dari dekat. Selama ini ia sebal karena Reza nggak pernah mau ramah dengannya. Beda dengan cowok-cowok lain yang welcome dengan kedatangannya. Reza pendiam dan cenderung menjaga jarak dengannya. Ditambah lagi dengan sikapnya yang dingin. Hanya tatapan matanya yang nggak bisa hilang dari ingatan Virgin. Mata itu begitu tajam seperti ada misteri yang melingkupinya. Tapi Virgin suka. Sebenarnya ini anak enak juga dilihat. Rambutnya sedikit pirang dan mukanya agak bule mungkin ada keturunan dari negeri seberang? Mendadak dadanya berdesir. Cuma senyumnya mahal. Mungkin aku harus membayar kali untuk bisa melihat senyumnya. Reza merasa Virgin sedang mengamatinya dan ia membiarkannya. Kebisuan menyergap di antara mereka. Hingga akhirnya mbak Munah menghampiri dengan membawa dua mangkok bakso dan es jeruk pesanan mereka.
“Monggo mas dan mbak,” kata mbak Munah sambil meletakkan bakso dan es jeruk di atas meja.
“Terima kasih mbak,” kata Reza dan Virgin bareng.
“Reza,sebenarnya apa yang mau kamu omongin? Aku jadi penasaran nih !” tanya Virgin sambil menuang saos ke dalam baksonya.
“Makan dulu aja,” kata Reza cuek. Dengan lahap dihabiskannya bakso yang terhidang di hadapannya. Virgin justru ogah-ogahan. Baksonya lebih banyak diaduk-aduk daripada dimakan.
“Perlu aku bantuin ngabisin baksonya nih….,” tanya Reza melihat Virgin malas makan. ”Enak kok baksonya,” kata Reza lagi. Virgin tersenyum.
“Abisnya kamu nggak mau ngomong sih? Aku kan jadi tegang.”
“Selama ini aku kan belum pernah makan bareng kamu. Cowok-cowok yang lain boleh masa aku nggak boleh.”
“Boleh-boleh aja kok. Aku kira kamunya yang nggak mau berteman sama aku. Kamu sombong, nggak mau tersenyum sama aku, itu yang terbersit di hatiku.”
“Kamu belum kenal siapa aku. Aku takut kamu pasti akan menjauh setelah tahu siapa aku.”
“Maksudmu?” Virgin mengernyitkan dahinya. Matanya tak lepas menatap Reza. Rezapun ganti menatap Virgin.
“Kenapa kamu memilih Rendi sebagai temanmu? Apa karena kalian sama-sama pindahan dari Jakarta? Atau Rendi lebih bisa mengerti gaya hidupmu?”
Virgin terhenyak. Ia nggak tahu maksud bicara Reza. “Ada apa dengan gaya hidupku, kamu keberatan?” tanya Virgin sejurus kemudian dengan raut muka tegang.
“Tidak, setiap manusia punya pilihan untuk hidupnya. Dan kamu sudah memilih jalan hidupmu. Aku nggak tahu apakah kamu merasa nyaman dengan pilihanmu atau tidak?”
“Sudahlah Rez, nggak usah berbelit-belit sebenarnya kamu mau ngomong apa? Apa kamu ingin tahu kehidupanku?” Suara Virgin agak meninggi. Perasaannya mulai nggak suka ada yang mengusik kehidupannya.
“Tidak ! Aku nggak ingin tahu kehidupanmu karena aku sudah meninggalkannya.” Reza memandang gadis di hadapannya sendu. Ada rasa sayang menjalar dalam hatinya. Ia merasa harus menyelamatkan gadis ini. Virgin terdiam. Ia nggak tahu harus ngomong apa. Batinnya sepertinya bisa meraba bahwa Reza sebenarnya sudah tahu apa yang dilakukannya.
“Vir, aku tahu apa yang terjadi denganmu. Kejadian kamu sakit kemarin sampai kamu lari ke kamar mandi. Itu pernah aku rasakan. Aku lebih parah dari kamu. Dimanapun dan kapanpun kejadian itu bisa terjadi. Sampai akhirnya teman-teman lari dariku dan nggak ada yang mau berteman denganku.” Reza berhenti sejenak dan menghela napas panjang. Kemudian ia menggulung lengan bajunya dan menunjukkan lengan atasnya pada Virgin. Virgin melihat ada guratan-guratan menghiasi lengan Reza. Terutama di lengan kirinya. Dan di atas guratan itu ada sebuah tatto mawar merah kecil yang sedang mekar.
“Aku suka bunga mawar. Saat sedang mekar banyak orang memujinya karena keindahannya. Tapi tidak mudah untuk dipetik kalau tidak tahu caranya karena ada duri-duri di sekelilingnya. Saat berguguranpun keberadaannya masih berguna.”
Virgin tertegun menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia nggak menyangka orang pendiam seperti Reza bisa terjerumus dan berteman dengan barang haram itu. Pantas aja Reza selalu pakai baju lengan panjang yang digulung sebatas siku.
“Dalam kesepian dan kesendirian akhirnya aku sadar. Aku nggak bisa begini terus karena hidup terus berjalan. Aku harus sembuh. Aku melihat temanku yang sekarat menyongsong maut dalam kesakitan dan kesendirian. Aku nggak mau seperti dia. Jalanku masih panjang. Akhirnya aku bangkit dengan tertatih-tatih. Dan setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya kamu bisa lihat seperti apa aku sekarang.”
Jadi Reza tahu apa yang kulakukan selama ini? , kata hati Virgin. Tiba-tiba air hangat mengalir dari pelupuk matanya. Air itu membasahi pipinya yang putih. Reza mengulurkan tisu kepadanya.
“Virgin.. nggak perlu bersedih. Semuanya sudah terjadi. Sorry ya… kalau kemarin aku sengaja menguntitmu ke kamar mandi. Karena aku tahu kejadian apa yang sedang kamu alami dan gejala yang kamu rasakan.”
Virgin makin terisak. Jalan hidupnya memang sudah tersesat. Apalagi setelah ia berteman dengan Rendi yang juga melakukan hal yang sama. Hanya saja ia sembunyi-sembunyi kalau sedang ngeboat. Jadi ia merasa aman-aman aja nggak ada yang tahu.
“Aku akan membantumu keluar dari bubuk setan itu. Kalau kamu mau.” Tangan Reza menggenggam tangan Virgin. Hangat menjalari relung hati Virgin. Ia mengangguk pasrah.
“Iya, aku ingin sembuh. Aku yakin bisa melewati ini semua bersamamu. Aku percaya padamu,” kata Virgin. Ditatapnya wajah didepannya yang sekarang kelihatan hangat tidak sedingin yang selama ini dirasakannya.
Dan teng…..teng….teng…bel berbunyi tiga kali menandakan jam istirahat telah usai bersamaan dengan hatinya yang mulai membuka lembaran baru.
…………………………………..
Ketika dia yang pergi memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkan padanya bahwa kamu punya 1000 alasan untuk tersenyum. ( Dunia Pustaka.com )