Welcome

Hello my friends. Welcome to my blog !! Let your lips always smile whatever happens. Escape from a situation that makes you dumb. That's my destination makes this blog.

Rabu, 04 Januari 2012

Di Ujung Asa

By : Anna Risnawati
            Tiba-tiba ruangan ini terasa panas. Suhu tubuhku mendadak naik. Keringat pelan-pelan mulai keluar dari pori-pori kulitku. Ruangan ber AC ini tak sanggup mendinginkan tubuhku. Di hadapanku dr Hilda masih terlihat serius membaca hasil laboratorium yang baru saja kuserahkan. Kulihat dahi dr Hilda sedikit berkerut. Sesekali ia menghela napas panjang. Cukup lama aku menanti jawaban yang akan diberikannya.
            “Fira, setelah saya baca hasil lab mu ini…saya menyimpulkan…..” Dr Hilda berhenti sejenak. Dia melihat ke arahku. “Tapi sebelumnya saya minta maaf kalau berita ini bukan berita baik……..”  Dadaku tiba-tiba berdegup kencang. Mulutku serasa terkunci. Aku menatap tajam ke arah dokter itu.
“Kamu menderita gejala kanker serviks atau kanker mulut rahim…..” Pelan tapi pasti dr Hilda mengucapkan kata-kata itu. Tapi bagiku, suara dr Hilda bagai ketok palu hakim yang memvonis seorang terdakwa. Aku terguncang , tangisku pecah seketika. Dr Hilda berdiri dari kursinya dan menghampiriku. Dengan rasa keibuan tangannya mengusap-usap kepalaku                         
“ Maafkan saya….tapi saya harus menyampaikan ini meskipun sakit mendengarnya. Saya juga ingin bicara dengan orang tuamu…mereka harus tahu….”
“ Orang tua saya tinggal di Medan, dok…..” Aku memotong perkataan dr Hilda dengan terisak.
“ Tapi kamu harus secepatnya mendapatkan perawatan Fir…! Secepatnya! tidak bisa ditunda lagi. Pertumbuhan sel-sel abnormal dalam leher rahim itu harus dicegah sebelum menyebar. Pengobatan yang tepat akan segera dapat menghentikan sel-sel yang abnormal, sebelum berubah menjadi sel-sel kanker. Kamu harus segera menjalani pengobatan .”
Dr Hilda berkata tegas penuh penekanan menunjukkan bahwa ia tidak main-main dengan perkataanya. Aku masih terisak.
“Apa yang harus saya lakukan,dok?,”
“Kamu harus menjalani pengobatan awal untuk mengetahui sampai seberapa jauh sel-sel abnormal itu menyebar dan kemungkinannya berubah menjadi sel-sel kanker. Akan kita ambil sample sedikit dari sel-sel leher rahim, termasuk sel-sel yang mengalami perubahan. Setelah kondisi itu diketahui maka akan kita ambil tindakan selanjutnya. Apakah kamu harus menjalani operasi pengambilan sel-sel leher rahim di daerah yang terserang kanker. Semakin dini diketahui maka penyembuhan akan dapat dilakukan secepatnya  ”
Dr Hilda menjelaskan panjang lebar tentang penyakitku itu. Tapi makin aku tahu ,aku makin takut. Aku hanya terbayang kematian sudah di pelupuk mata.
                        ……………………………………….
“Fir, ada Hanan luar, “ teriak Farah sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Aku diam saja mendengar teriakan Farah. “Fira…!” Teriakan Farah semakin kencang begitu juga dengan gedorannya.
“Bilang aja aku lagi tidur,” aku menjawab sekenanya.
“Tapi aku udah bilang kamu ada”.
“Tolong Far,bilang aja begitu. Aku lagi ingin sendiri. Nggak mau diganggu”.
Terdengar langkah –langkah yang diseret menjauh. Aku memang tidak ingin ketemu dengan siapapun. Sejak mendengar vonis dokter itu aku sering menyendiri aku tidak tahu harus melakukan apa. Dunia serasa runtuh bagiku. Aku hanya bisa menangis. Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku di Medan? Berbagai macam tanya bergelayut dalam pikiranku. Mungkin dr Hilda benar, orang tuaku harus tahu. Meskipun aku tidak tahu apa reaksi mereka. Tapi pasti mereka bisa memberi solusi yang baik. Akhirnya kuputuskan untuk pulang ke Medan tanpa memberitahu siapapun termasuk Hanan. Pikiranku memang benar-benar kalut. Tapi aku juga harus bertindak  cepat.
Dengan pesawat paling pagi aku terbang ke Medan. Membawa sebuah ketidakpastian dalam hidup. Aku sudah pasrah. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah aku ingin menghabiskan waktu bersama keluargaku. Aku hanya pamit pada Farah, kepadanya aku bilang kangen pada keluarga. Memang hampir setahun ini aku tidak pulang. Waktuku banyak kuhabiskan dengan Hanan. Lelaki asal Semarang itu telah mengisi hari-hariku selama tiga tahun terakhir ini. Meskipun usia Hanan dua tahun di bawahku tapi kedewasaannya patut kuacungi jempol. Dia banyak membantuku dalam berbagai hal. Sayangnya keluargaku tidak merestui hubungan kami berdua. Alasannya cukup klise. Hanya karena kami berbeda suku. Aku Batak bermarga Hasibuan sedangkan Hanan Jawa. Padahal bagi kami berdua perbedaan itu tidak berarti. Yang penting, kami seiman. Itu sudah cukup landasan bagi kami. Tapi apa daya sewaktu Hanan ingin bersilaturrahmi dengan keluargaku,mereka tidak menyambut seperti yang yang kami harapkan. Rasa tidak suka yang justru mereka perlihatkan. Tapi disinilah Hanan menunjukkan kedewasaannya. Dia tidak marah bahkan berusaha sabar diperlakukan seperti itu. Terus terang aku jadi tambah sayang padanya. Perhatiannya padaku pun tidak berubah setelah kejadian itu.
Tapi untuk berterus terang tentang penyakitku ini aku tidak sanggup. Aku takut mengecewakannya. Aku takut kehilangan dia. Akhirnya kuputuskan untuk pergi diam-diam. Apakah aku akan meninggalkannya?, aku tak tahu. Saat ini aku tidak bisa berpikir.
                          ………………………………….
“Fira, paribanmu datang cari kau”. Suara mamak terdengar lantang dari ruang tengah. “Jangan kau kecewakan dia,cepat kau temui dia nak”. Tiba-tiba mamak sudah berdiri di depan pintu kamarku sambil tersenyum.
“Ya mak”. Pelan-pelan aku turun dari tempat tidurku. Bang Jeffri adalah calon yang disodorkan mamak untukku. Dia memang paribanku. Ibunya Bang Jeffri adalah kakak bapakku. Aku memanggilnya inang tua. Keluargaku dan keluarga Bang Jeffri telah setuju untuk menjodohkan kami berdua. Tapi perjodohan itu belum sampai ke acara resmi. Baru persetujuan pihak keluarga karena kami masih sekolah. Masa kecil dan remaja banyak kami lalui bersama di Medan. Hingga aku lulus SMA dan memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Bang Jeffri tetap di Medan meneruskan usaha bengkel ayahnya sambil kuliah di Fakultas Ekonomi. Dari dulu Bang Jeffri memang baik dan perhatian padaku. Setelah aku lulus kuliah mamak menyuruhku pulang ke Medan.
“Kau cari pekerjaan di Medan sajalah ,Fir ! Jadi mamak kalau mau ketemu kau tak usah jauh-jauh ke Jakarta.” Kata mamak waktu itu. Aku langsung menolak.
“Aku udah dapat pekerjaan di Jakarta,mak. Di perusahaan asing sebagai sekretaris.”
 Aku tahu maksud mamak sebenarnya, agar aku lebih dekat dengan Bang Jeffri. Sayangnya hatiku sudah tertambat sama Hanan, lelaki Jawa yang kutemui di kampus. Kami bertemu di kampus tempat kami menimba ilmu. Hanan kuliah di Fakultas Teknik jurusan Teknik Sipil sedangkan aku di Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen. Kegiatan kampuslah yang mendekatkan kami. Perkenalan kami tambah erat setelah kami sama-sama ikut kegiatan Pecinta alam. Alam yang ramah telah membantu menebarkan benih-benih cinta antara aku dan Hanan. Hingga akhirnya dalam dekapan alam gunung Gede yang dingin kami memutuskan untuk saling mengenal lebih dekat tiga tahun yang lalu. Disitulah aku melihat ketulusan cinta Hanan padaku. Usia Hanan yang dua tahun lebih muda tidak menyurutkan langkahnya untuk merengkuh cintaku. 
Tapi keinginan mamak untuk menjodohkan aku dengan bang Jeffripun tak bisa dianggap enteng. Persetujuan dua keluarga telah terjadi tinggal peresmian saja. Hal inilah yang membuatku selalu menghindar dan malas untuk pulang ke Medan. Pasti hal-hal itu lagi yang akan dbicarakan. Apalagi sekarang kami sudah sama-sama dewasa. Peresmian itu tinggal menghitung hari saja.
Kenapa harus aku,bukan Rasti saja? Aku pernah memberontak setiap hal itu diungkit-ungkit lagi. Karena Bang Jeffri menginginkan kamu nak, kata mamak waktu itu. Jadi Bang Jeffri inginnya aku yang menikah dengannya?
“Apa kabar, bang?” aku menyalami bang Jeffri. Bang Jeffri bangkit dari duduknya dan menyambut uluran tanganku. Senyumnya mengembang.
 “Aku baik-baik saja. Kamu sendiri gimana? Kelihatannya kok lemas dan pucat ?” Rupanya bang Jeffri bisa menangkap apa yang kurasakan.
“Iya,agak nggak enak badan. Tapi nggak apa-apa kok. Aku senang bisa ketemu dengan abang lagi. Sudah lama ya kita nggak jumpa,” Aku mencoba membuka pembicaraan. Ia mengangguk sambil tersenyum.
“Gimana pekerjaanmu di Jakarta? Katanya jadi sekretaris direksi perusahaan asing?”
“Iya bang, cukup sibuk dan melelahkan. Bahkan untuk istirahatpun rasanya nggak ada waktu”.
“Kamu harus jaga badan. Pantesan agak kurusan”.
“Abang sendiri tambah gemuk, pasti lancar usahanya ya bang”.
“Alhamdulillah,begitulah kira-kira”.
Tiba-tiba kata terakhir dari bang Jeffri tak bisa kudengar lagi. Aku merasakan sakit yang amat sangat di bawah perutku dan ….tiba-tiba gelap, aku tak ingat apa-apa lagi.
                        ………………………………….
Aku terbangun mendengar suara tangisan mamak. Aku memandang ke sekelilingku. Ada Bang Jeffri. Ada Rasti adikku bahkan inang tua. Kurasakan aku seperti berada di rumah sakit bukan di kamarku.
“Kenapa aku di sini mak?”
“Kau pingsan nak. Sebelum pingsan kau sempat meremas-remas perutmu dan meringis kesakitan. Kau sakit apa sebenarnya,nak. Berterus teranglah sama mamak.”
Tanpa sadar air mataku menetes. Mungkin inilah saatnya aku bercerita tentang penyakitku.
“Mak,aku akan cerita sama mamak. Aku harap mak jangan nangis ya”. Aku memandang orang-orang disekelilingku. Mereka berharap cemas menunggu ceritaku.
“Aku kena gejala kanker leher rahim,mak. Itu diagnosa dokter di Jakarta. Itulah sebabnya aku pulang mak. “ Aku berkata pelan sambil menatap mata mamak yang mulai berkaca-kaca mendengar pengakuanku dan seketika tangisnya tak bisa dibendung lagi. Beliau tidak menyangka. Rasti,Bang Jeffri dan inang tua juga tak kalah terkejutnya. Mereka tak bisa berkata apa-apa. Hanya terdiam.
“Kenapa kamu mengalami cobaan yang begitu berat nak?”
“Satu-satunya jalan aku harus menjalani operasi. Operasi ini untuk mengambil sel-sel abnormal yang mulai bersarang di rahimku. Karena penyebaran ternyata sudah terjadi sehingga harus cepat dilaksanakan.”
Tim dokter di rumah sakit inipun mempunyai dianosa yang sama dengan dr Hilda. Aku harus segera menjalani operasi setelah diadakan observasi lanjutan.
Detik-detik yang menegangkan itu akhirnya terjadi. Aku menjalani operasi pengangkatan sel-sel abnormal itu yang memang sudah mulai menyebar. Aku sudah pasrah menjalani ini semua karena dokterpun tidak bisa menjamin apakah aku akan sembuh total. Dokter hanya mengisyaratkan agar aku berdoa mohon kesembuhan. Karena kemungkinan aku akan cacat sebagai perempuan. Aku sempat menangis mendengar vonis dokter itu. Tapi aku juga harus memikirkan jiwaku yang terancam jika aku tidak melakukan operasi ini.
                                    ………………………………..
Pelan-pelan aku membuka mataku. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela cukup membuatku silau. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Bang Jeffri tertidur pulas di sofa.Tidak ada siapa-siapa kecuali Bang Jeffri yang menemaniku semalaman. Aku merasakan sakit di sekujur badanku. Rasa lemas dan haus membaur jadi satu. Aku haus sekali tapi untuk mengambil minum dimeja samping ranjangku aku tidak sanggup.
“Bang.”  Aku merintih. Bang Jeffri terbangun mendengar rintihanku. Dan mengambil gelas berisi air putih melihat tanganku yang berusaha menggapai gelas itu. Pelan-pelan aku meneguk air itu beberapa tegukan. Rasa segar menjalar ke seluruh tubuhku.
“Kamu istirahat dengan tenang. Aku akan selalu menjagamu. Kalau ada apa-apa nggak usah sungkan-sungkan,” kata Bang Jeffri sambil merebahkan tubuhku lagi.
“Terima kasih bang.”  Kuakui bang Jeffri memang sabar dalam merawatku. Akupun merasa nyaman di sampingnya. Tapi kenapa rasa itu tidak datang juga. Ataukah memang tidak akan datang? Hatiku nggak bisa bohong bahwa cintaku tak bisa ke lain hati. Biarpun akhir-akhir ini kami banyak menghabiskan waktu bersama. Tapi kedekatan fisik itu tidak juga menimbulkan getar-getar asmara di hatiku.
Hari-hari di rumah sakit kulalui bersama Bang Jeffri. Tak bisa kupungkiri Bang Jeffri sangat sayang dan sabar. Untuk beberapa hari pasca operasi aku hanya tergolek lemah. Aku merasakan menjadi orang yang tidak berdaya. Bang Jeffrilah yang selalu menghiburku dan memberi semangat bahwa hidup masih panjang yang harus dijalani.  
                                         …………………………………
Tok…tok..tok..! ketukan di pintu depan membuat bahuku terlonjak. Aku menoleh kearah Bang Jeffri. “Siapa bang ?” Bang Jeffri mengangkat kedua bahunya menandakan ia juga tidak tahu.
“Tunggu sebentar aku lihat dulu,” katanya seraya beranjak dari tempat duduknya. Suara TV langsung kukecilkan. Kami memang sedang menonton TV berdua. Sepulang dari  rumah sakit aku memang tinggal di rumah Bang Jeffri. Aku tinggal di paviliun dengan view menghadap laut. Keindahan pantai terhampar di depan mata saat aku membuka korden jendela. Laut yang biru dengan bebatuan di pinggir pantai menambah kekagumanku pada keindahan pantai itu.
“Agar suasana laut yang biru dapat menenangkan pikiranmu,” kata Bang Jeffri waktu itu. Selama aku tinggal di paviliun itu Bang Jeffrilah yang merawatku sehari-hari disela-sela kesibukannya mengurus bengkel.
Agak lama juga Bang Jeffri di depan menemui tamu itu. Aku tidak tahu siapa yang datang. Sayangnya aku tidak bisa menangkap pembicaraan mereka. Mungkin karyawannya, ada yang perlu dibicarakan, pikirku.
Tiba-tiba Bang Jeffri masuk dan menghampiri tempat tidurku. Kulihat wajahnya agak tegang. “ Ada apa bang? Siapa yang datang?,” tanyaku sambil berusaha bangkit dari tempat tidurku. Bang Jeffri membantuku duduk di kursi malas samping ranjang. Tanpa menghiraukan pertanyaanku dia merapihkan dudukku. Menselonjorkan kakiku agar aku bisa duduk dengan nyaman. Setelah itu ia jongkok disamping kursiku dengan sedikit menarik napas panjang.
“Ada yang mencarimu di depan,” kata Bang Jeffri datar. Matanya menatapku. “Dia datang dari Jakarta.”  Aku balas menatapnya mencari jawab di matanya tapi Bang Jeffri membiarkanku mencari jawab itu sendiri. Aku terdiam sambil menebak-nebak siapa yang mencariku jauh-jauh dari Jakarta.
“ Temui dia. Ada yang ingin dibicarakannya. Aku akan menyuruhnya masuk,” kata Bang Jeffri seraya berdiri tanpa mendengar persetujuanku dulu. Diapun kembali ke depan. Hatiku mendadak deg-degan. Apakah Hanan yang datang? Karena yang tahu rumahku di Medan hanya Hanan. Kalau benar dia yang datang apa yang harus kukatakan? Aku menelan ludah. Tiba-tiba mulutku terasa kelu. Ya Tuhan,aku belum siap bertemu dengannya. Terdengar langkah-langkah orang berjalan semakin dekat dan memang kelihatannya lebih dari satu orang. Yah,Bang Jeffri dan orang itu.
 “Silahkan masuk,” Terdengar suara Bang Jeffri menyilahkan orang tersebut. “ Terima kasih bang,” jawabnya.
Aku menoleh ke arah pintu. Dan …deg...sejenak aku tertegun. Aku tidak bisa berkata-kata. Diapun berdiri mematung di depan pintu kamar. Matanya menatapku sendu.
“Hanan!,” aku menggumam lirih. Sekarang dia ada didepanku, datang jauh-jauh dari Jakarta. Tanpa berkata apa-apa dia berjalan menghampiriku, kemudian berjongkok di depan kursi malasku. Matanya tak lepas menatapku. Bang Jeffri duduk agak menyingkir dari kami berdua. Sepertinya memang memberi kesempatan pada kami berdua untuk berbicara. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Aku terharu melihat Hanan yang tak kenal lelah menyusulku hingga ke Medan.
“Maafkan aku Hanan,aku tidak pernah memberi kabar apa-apa padamu. Aku memang pengecut ………” Ssssttt, Hanan menempelkan telunjuknya di mulutku mendengar aku terus nyerocos. Aku memang merasa sangat bersalah padanya. Setiap Hanan mencoba meneleponku aku merejecknya. Dan setiap sms aku tidak pernah membalasnya.
“Tidak ada yang salah pada dirimu. Aku sudah tahu semuanya. Bang Jeffri sudah menceritakan semuanya padaku.” Kata Hanan. Aku menoleh ke arah Bang Jeffri. Dia mengangguk.
“Kenapa kamu tidak berterus terang padaku mengenai penyakitmu itu?”.
“Aku tidak mungkin berterus terang padamu. Aku tidak ingin melihatmu kecewa.”
“Fira, kamu pikir setelah aku tahu penyakitmu…aku akan pergi meninggalkanmu…?” kata Hanan tajam. “Tidak Fira..aku tidak akan meninggalkanmu gara-gara ini semua. Apapun yang terjadi padamu kita akan selalu bersama. Karena aku…..” Hanan berhenti sejenak menunggu reaksiku. Ketika aku tidak bereaksi apa-apa dan tetap memandangnya diapun melanjutkan kata-katanya.  ”Mencintaimu………” Dia menutup kata-katanya sambil mencium tanganku. Tangisku langsung pecah.
“Tidak !!………,” teriakku spontan. Kutepiskan tangannya. Aku benar-benar terguncang mendengar ucapannya. “Pergilah,carilah wanita yang lebih baik. Aku tidak pantas untukmu. Aku tidak bisa melaksanakan kegiatanku sebagai istri. Hidupku sudah nggak lama lagi. Pergilah Hanan!…aku tidak mau melihatmu lagi .”  Aku menangis sejadi-jadinya. Bang Jeffri mendekat dan memelukku. Dia mencoba menenangkanku. Aku menangis dalam pelukan Bang Jeffri. Kaosnya basah oleh air mataku. Hanan berdiri dan tertunduk lesu. Bang Jeffri memberi kode agar Hanan menunggu di luar. Diapun berjalan lunglai keluar kamar. Bang Jeffri memberiku minum agar aku tenang. Di sela-sela sesenggukanku Bang Jeffri mencoba bicara dari hati ke hati.
“ Fira, aku tahu isi hatimu. Sebenarnya kamu mencintai Hanan bahkan dengan sepenuh hatimu. Jangan kamu bohongi dirimu.” Bang Jeffri berkata pelan dan hati-hati. Sifat dewasanya yang kukagumi tampil. “ Jangan melakukan kesalahan kalau itu bisa kamu hindari karena ini menyangkut kebahagiaan hidupmu. Hiduplah dengan orang yang kamu cintai dan orang yang mencintaimu. Kamu pasti akan merasakan kebahagiaan abadi. Cinta kalian memang tidak terpisahkan. Aku bisa melihatnya dari sorot matanya bahkan sorot matamu.Sekali lagi jangan kamu bohongi dirimu.Kamu akan menyesal seumur hidupmu.”
            Apa yang diucapkan Bang Jeffri benar. Aku memang mencintai Hanan. Aku tidak bisa membohongi diriku. Dengan Bang Jeffri aku memang mengaguminya karena dia baik. Tapi aku tidak mencintainya.
“Kembalilah padanya. Itu jalan yang terbaik. Bahkan mungkin bisa mempercepat pemulihan kesehatanmu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Bang Jeffri sudah menunjukkan kebesaran jiwanya. Dia merelakan aku dimiliki orang lain. Meskipun dia sendiri mencintaiku apa adanya. Bahkan sanggup menerimaku tanpa menuntut aku untuk melaksanakan tugasku sebagai istri.
“Abang sendiri bagaimana. Kita kan sudah dijodohkan. Mamak dan inang tuapun sudah setuju.”
“Aku nanti yang akan bicara dengan mereka. Bahwa cinta tidak bisa dipaksakan.”
“Terima kasih bang. Aku tidak tahu harus membalas budi baik abang dengan apa? Bagiku abangpun tak tergantikan.”
Sekali lagi aku memeluk Bang Jeffri tulus. Diapun memelukku erat seakan aku akan pergi meninggalkannya selamanya.
“Aku akan panggil Hanan kemari.” Diapun berjalan keluar. Aku menunggu dengan rasa yang tidak bisa kukatakan. Hatiku bahagia. Akhirnya semua permasalahan bisa selesai. Ya, Tuhan beri aku hidup sekali lagi agar aku bisa bersamanya, doaku. Tanpa kusadari Hanan sudah berdiri di sampingku. Aku ulurkan tanganku untuk meraihnya. Diapun menyambutnya dan langsung memelukku.
“Hanan, aku akan pergi bersamamu. Aku juga mencintaimu…..”
“Aku akan selalu menyayangimu dan membahagiakanmu,Fira….”
“Meskipun hidupku nggak lama lagi…”
“Ssst..nggak boleh berkata melebihi kehendak Allah. Dia Maha Tahu yang terbaik untukmu.”
Di sudut pintu Bang Jeffri menyaksikan itu semua dengan tersenyum. Ada ketulusan dan juga kekecewaan dalam senyumnya. Tapi ia bahagia karena berhasil menyatukan dua hati yang memang seharusnya bersatu tanpa harus dipisahkan lagi oleh ego orang tua masing-masing.
                          
                                    ……………………………
 Jangan meminta Tuhan untuk mewujudkan mimpimu. Berdoalah pada Tuhan untuk memberimu kekuatan agar bisa membuat mimpimu jadi kenyataan ( DuniaPustaka.com)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar